Polri Bongkar Kasus Penggelapan Motor Jaringan Internasional

Bareskrim Polri menggelar konferensi pers pengungkapan kasus penggelapan motor jaringan internasional. (Foto: ANTARA/Nadia Putri Rahmani)

FAKTA.COM, Jakarta - Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Polri menangkap tujuh tersangka kasus fidusia atau penggelapan kendaraan bermotor jaringan internasional.

"Tujuh orang telah ditetapkan sebagai tersangka dengan peran masing-masing," kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Polisi Djuhandhani Rahardjo Puro dalam konferensi pers di Slog Polri, Jakarta Timur, Kamis (18/7/2024).

Dia mengatakan, inisial para tersangka itu masing-masing NT (debitur), ATH (debitur), WRJ (penadah), HS (penadah), FI perantara (pencari penadah), HM (perantara), dan WS (eksportir).

Polisi Dalami Kasus Penyalahgunaan Kecubung untuk Efek Mabuk

Pengungkapan kasus tersebut berawal dari laporan masyarakat tentang beberapa tempat yang menampung ratusan motor tak memiliki dokumen.

"Pada tanggal 29 Januari 2024, tim melakukan penyelidikan dan berhasil menemukan salah satu gudang milik tersangka WS di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara," kata dia.

Total Kerugian Rp876 Miliar

Dari hasil pengembangan, penyidik menemukan dua gudang milik tersangka WRJ dan satu gudang milik tersangka HS di Kota Bandung, Jawa Barat. Total ada enam TKP yang telah diungkap kepolisian.

Dugaan Penyiksaan Remaja oleh Polisi, Komnas HAM Bentuk Tim Investigasi

Modus operandi pelaku dimulai dari penadah yang melakukan pemesanan kendaraan bermotor kepada perantara.

Selanjutnya perantara mencari debitur untuk melakukan kredit motor di dealer-dealer di seluruh Pulau Jawa dengan menggunakan identitas debitur yang diberikan imbalan Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.

Setelah diterima debitur, kendaraan langsung dipindahtangankan ke perantara untuk kemudian diberikan ke penadah untuk ditampung.

Mantan Manajer Fuji Ditangkap Polisi, Diduga Tilep Duit Rp1,3 Miliar

Apabila motor yang ditampung sudah berjumlah 100 unit, penadah berkoordinasi dengan eksportir untuk mengekspor kendaraan tersebut ke beberapa negara, yaitu Vietnam, Rusia, Hong Kong, Taiwan, dan Nigeria.

Barang bukti yang berhasil diamankan adalah sepeda motor sebanyak 675 unit dan dokumen pendukung adanya transaksi pengiriman sebanyak sekitar 20 ribu sepeda motor dalam rentang waktu Februari 2021 hingga Januari 2024. Dampak kerugian ekonomi dalam kasus ini sekitar Rp876 miliar.

Barang bukti dalam kasus fidusia dan/atau penggelapan dan/atau penadahan kendaraan bermotor jaringan internasional. (Foto: ANTARA/Nadia Putri Rahmani) Barang bukti dalam kasus fidusia dan/atau penggelapan dan/atau penadahan kendaraan bermotor jaringan internasional. (Foto: ANTARA/Nadia Putri Rahmani)


Para tersangka dijerat tindak pidana fidusia atau penggelapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 atau Pasal 36 UU Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia dan Pasal 378 dan/atau Pasal 372 KUHP dan/atau Pasal 480 KUHP dan/atau Pasal 481 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal selama tujuh tahun.

Untuk langkah selanjutnya, Dittipidum Bareskrim akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan (Dirjen Bea Cukai), Divisi Hubinter Polri untuk bekerja sama dengan kedutaan besar lima negara yang menjadi tujuan ekspor para pelaku.

"Ini sebagai wujud komitmen Polri sesuai dengan arahan Bapak Presiden RI dan Bapak Kapolri untuk memberantas kejahatan transnasional yang menjadi musuh kita bersama," ujarnya. (ANT)

Bagikan:

Data

Komentar (0)

Login to comment on this news

Updates

Popular

Place your ads here
Data
Pointer
Interaktif
Program
Jobs
//