Deksametason - Pronicy Bukan Obat Penggemuk, Kenali Efek Sampingnya

Ilustrasi obat-obatan. Freepik
FAKTA.COM, Jakarta - Belum lama ini beredar kabar tentang seorang pengasuh yang dilaporkan oleh orang tua seorang balita karena memberikan obat deksametason dan pronicy selama setahun penuh kepada balita yang diasuhnya.
Cerita tersebut diungkap oleh ibu balita asal Surabaya tersebut di media sosialnya. Awalnya balita tersebut dibawa ibunya berobat ke Dokter karena menderita sakit flu.
Setelah diperiksa, Dokter mengatakan kalau korban harus melakukan diet karena berat badan korban saat ini mencapai 20 kg di usia 2 tahun 3 bulan dan dinyatakan berat badan berlebih (overweight).
Selain mengalami kelebihan berat badan, balita tersebut juga mengalami pembengkakan di area wajah dan badan. Kondisi ini disebabkan karena tubuh kelebihan hormon kortisol dan dalam istilah medis disebut dengan Sindrom Cushing.
Pada dasarnya, kortikosteroid dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu jenis alami dan sintetis. Kortikosteroid alami diproduksi oleh tubuh kita sendiri terutama pada kelenjar anak ginjal (kelenjar adrenal) dalam bentuk hormon-hormon seperti glukokortikoid (kortisol) dan mineralokortikoid.
Hormon glukokortikoid berperan terutama dalam pengaturan metabolisme karbohidrat dan fungsi sistem imun, sementara mineralokortikoid berfungsi dalam proses keseimbangan cairan dan elektrolit/garam-garam tubuh.
Sejumlah obat-obatan turut mengandung steroid, sehingga dinyatakan sebagai kelompok steroid sintetis.
Obat-obatan tersebut umumnya dikenali dengan akhiran -son atau -solon seperti deksametason, metilprednisolon, prednison, betametason, hidrokotison, triamsinolon, fluosinolon astonid maupun golongan lain seperti klobetasol propionat.
Deksametason adalah obat keras golongan kortikosteroid. Deksametason bekerja menyerupai hormon kortisol yang karena fungsinya telah lama digunakan untuk mengobati kondisi alergi, penyakit autoimun (Rematik dan Lupus Erimatosus Sistemik), kanker, penyakit pada kelenjar adrenal (Addison’s Disease) dan Sindrom Cushing. Deksametason memiliki efek anti radang yang kuat sehingga sering disebut sebagai “Obat Dewa”.
Efeknya yang sangat kuat dan cepat membuat deksametason sering disalahgunakan sebagai bahan tambahan jamu tradisional untuk pegal linu, tanpa memperhitungkan dosis obat yang ditambahkan, sehingga dikenal di masyarakat sebagai jamu pegal linu yang sangat manjur.
Walaupun obat steroid memiliki manfaat yang sangat besar, berbagai temuan terbaru menunjukkan bahwa konsumsi obat ini memiliki banyak sekali efek samping. Bahkan, bila konsumsi obat ini diberikan dalam jangka waktu panjang dan tidak sesuai indikasi dari dokter, maka dampak bagi kesehatan yang lebih besar akan timbul, baik peningkatan keparahan penyakit atau timbul penyakit baru.
Penggunaan deksametason sangat berbahaya bila dikonsumsi tanpa pengawasan dokter. Karena bila digunakan lebih dari 3 minggu, mekanisme produksi hormon kortisol alamiah dalam tubuh akan menurun responnya. Jumlah hormon kortisol yang dihasilkan dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik (feed back) antara hormon yang dihasilkan dari kelenjar pituitari dan otak (hipotalamus).
Untuk mengembalikan respon kerja produksi hormon kortisol tersebut, dibutuhkan penurunan dosis bertahap yang hanya bisa dilakukan oleh dokter yang melakukan pemeriksaan medis langsung.
Penghentian kortikosteroid tanpa penurunan dosis bertahap dapat menyebabkan kondisi krisis adrenal, yaitu kondisi di mana respon kelenjar adrenal tidak sesuai. Akibatnya, hormon kortisol dalam tubuh dihasilkan dalam jumlah sangat kecil atau bahkan tidak dihasilkan sama sekali.
Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa mengancam nyawa.
Sindrom Cushing adalah kumpulan gejala yang muncul akibat terlalu tingginya hormon kortisol di dalam tubuh. Hormon kortisol dalam darah pada jangka panjang akan menimbulkan dampak buruk pada fungsi jantung, pembuluh darah dan sistem imun tubuh.
Sekitar 70% kematian akibat sindrom cushing dihubungkan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah atau kejadian infeksi yang berat.
Beberapa keluhan yang muncul pada penyakit ini adalah berat badan meningkat, penumpukan lemak terutama di bahu (buffalo hump) dan wajah (moon face), guratan berwarna ungu kemerahan (striae) di kulit perut, paha, payudara atau lengan.
Kemudian penipisan kulit sehingga kulit mudah memar, luka atau gigitan serangga di kulit sulit sembuh, jerawat, mood menjadi iritabel (depresi, cemas, gelisah atau mudah marah), tekanan darah tinggi, sakit kepala, lemah otot, tulang mudah patah/bengkok karena pengeroposan tulang (osteoporosis) dan gangguan pertumbuhan pada anak.
Efek menambah nafsu makan atau berat badan juga untuk anti nyeri dan anti radang inilah yang menyebabkan obat steroid sering disalahgunakan. Masyarakat menyatakan bahwa untuk mendapatkan obat ini sangat mudah dan murah, sehingga mereka membeli secara bebas tanpa resep dokter. Hal ini mungkin terjadi akibat informasi dari mulut ke mulut mengenai manfaat obat steroid ini.
Sayangnya, walaupun angka penggunaan obat steroid terus meningkat, pengetahuan mengenai risiko penggunaan steroid jangka panjang/ efek sampingnya terus menurun. Tulisan ini bertujuan sebagai edukasi bagi masyarakat luas agar dapat berhati-hati dalam penggunaan obat, tidak hanya obat steroid namun juga obat-obatan lain.
Karena bila tidak terukur dan terpantau dengan baik, justru akan membahayakan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. Jangan menjadi dokter-dokteran karena berbahaya bagi kesehatan anda.
dr. Rusthavia Afrilianti
Dokter di UPT Puskesmas Buntok, Kalimantan Tengah