Bos BCA Tanggapi Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Begini Katanya

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja. (Tangkapan layar Youtube BCA)
FAKTA.COM, Jakarta - Presiden Direktur Bank Central Asia, Jahja Setiaatmadja buka suara soal target pertumbuhan ekonomi 8%. Menurutnya, banyak faktor yang mempengaruhi.
Hal tersebut diucapkan dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BCA kuartal III-2024, Rabu (23/10/2024).
Dalam kesempatan itu, Jahja percaya pemerintahan baru di bawah nahkoda Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka akan membawa perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Kendati begitu, Jahja mengatakan ada banyak faktor yang harus diperhatikan.
“Tentang ekonomi tumbuh 8%, kita harus melihat karena pertumbuhan ekonomi tentu banyak faktor disitu yang harus kita lihat. Tentu juga dari segi buying power masyarakat, dan program-program APBN,” ujarnya.
Jahja juga bilang, ia yakin kalau program-program yang dicanangkan itu berhasil direalisasikan, maka hal itu dapat mendorong perekonomian ke depan.
Di samping itu, Jahja juga optimis dengan menteri bidang ekonomi yang kembali melanjutkan amanahnya, terutama kaitannya dengan kepercayaan investor asing.
“Jadi ini suatu hal yang sangat positif di kacamata investor asing,” katanya menambahkan
Selain itu, Jahja percaya, komposisi susunan kabinet yang diisi oleh beberapa kementerian baru dapat membawa dampak positif untuk perekonomian.
“Tim ekonomi kita sudah baik dan juga dengan cukup banyaknya menteri-menteri, berarti fokus dari mereka itu masing-masing lebih tajam kepada bidang masing-masing.
Nah tinggal kita tunggu. Policy-nya seperti apa, sinerginya seperti apa, kita harapkan tentunya nanti itu akan bisa lebih baik,” pungkasnya
Kendati rasa optimis tentang mimpi akselerasi pertumbuhan ekonomi 8% banyak muncul, hal tersebut tidak sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun ke depan yang dirilis oleh International Monetary Fund (IMF).
Berdasarkan laporan outlook ekonomi yang dirilis IMF bulan ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2024-2029 diproyeksikan hanya berada di kisaran (5,0%-5,1%) saja. Artinya, serupa dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun ke belakang.













