Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?

Pidato Prabowo Soal Kemiskinan dan Paradoksnya dengan Menteri Ekonomi Pilihan

Ilustrasi kemiskinan. (Dokumen Kemenkeu Foto/Benny)

Ilustrasi kemiskinan. (Dokumen Kemenkeu Foto/Benny)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Meski pidato Prabowo Subianto pada pelantikan presiden, Minggu (20/10/2024) memiliki pesan yang kuat tentang persoalan ekonomi di Indonesia, seperti kemiskinan yang masih saja menjadi momok. Akan tetapi, ada ironi yang ditimbulkan dari pidato tersebut.

Pasalnya, ia memboyong masuk menteri-menteri bidang ekonomi yang dalam periode terakhir tidak begitu optimal sehingga menciptakan persoalan ekonomi tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat dalam rilis tertulis yang diterima Fakta.com, Senin (21/10/2024).

Kemiskinan dan Pengangguran Era Jokowi, Bagaimana Faktanya?

Seperti diketahui, meski mengalami penurunan persentase, tetapi sangat tipis. Kemudian, di periode keduanya, bahkan angka kemiskinan mengalami peningkatan, kendati persentasenya menurun.

Persoalan inilah yang akan diwarisi oleh Prabowo Subianto, setidaknya dalam lima tahun ke depan.

Merujuk kepada data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan mengalami penurunan sejak (2014-2024). Namun, penurunannya sangat kecil, yakni 2,22% saja.

Menanggapi hal ini, dalam sebuah diskusi publik belum lama ini, Ekonom Senior Didik J Rachbini ungkap penurunannya belum optimal jika dibandingkan dengan periode pemerintahan sebelumnya.

“Dapat dikatakan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih berhasil dibandingkan dengan Jokowi dalam mengatasinya (Kemiskinan),” kata Didik.

Di samping itu, Jokowi mengawali periode kedua kepemimpinannya dengan angka kemiskinan sebesar 25,14 juta, kemudian mengakhirinya di angka 25,22 juta. Artinya, ada peningkatan kemiskinan sebesar 80 ribu pada periode (2019 - 2024) Jokowi memimpin.

Melalui rilis tersebut, Achmad mengapresiasi pidato Prabowo yang menyentuh masalah fundamental dalam ekonomi Indonesia.

“Selama bertahun-tahun, Indonesia memang mencatat pertumbuhan ekonomi yang stabil, namun masalah ketimpangan dan kemiskinan tetap menjadi momok yang sulit diatasi,” ujar Achmad

Paradoks di balik retorika hebat Prabowo

Kendati pidato Prabowo Subianto filosofis dan berkesan karena menggambarkan realitas yang dihadapi masyarakat lebih luas, ada ironi di balik retorika dalam pidato tersebut.

Menurut Achmad, ironi tersebut muncul ketika Prabowo memboyong nama-nama lama untuk mengisi bidang ekonomi di kementerian.

“Para teknokrat dan ekonom yang berperan dalam pemerintahan sebelumnya tetap diandalkan, meskipun mereka tidak berhasil membawa Indonesia ke arah pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” ucap Achmad.

Dalam hal ini, Achmad mempertanyakan bagaimana menteri-menteri lama di bidang ekonomi yang tidak pernah menembus pertumbuhan 5% di periode sebelumnya, kemudian diberikan amanah untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

Mengintip Kantong Kemiskinan di Indonesia, Daerah Mana Saja?

Menanggapi hal ini, Didik meyakini meski banyak persoalan ekonomi yang diwarisi Prabowo, tetapi beliau merupakan sosok yang independen dan tidak bisa berada di bawah orang lain.

“Ketika sudah berkuasa, ada harapan baru bahwa pidato yang disampaikan benar-benar terjadi dan diwujudkan,” pungkas Didik.

Adapun soal kemiskinan, banyak hal yang menjadi akar penyebabnya. Namun, Peneliti Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), Muhammad Anwar mengatakan, salah satu biang dari mengakarnya persoalan kemiskinan di Indonesia adalah mandeknya industrialisasi.

Menurutnya, perkembangan sektor manufaktur yang melambat berimplikasi pada menurunnya kapasitas penciptaan lapangan kerja formal.

“Hal ini berdampak pada tingkat pengangguran yang tinggi, yang pada gilirannya memperburuk masalah kemiskinan di daerah tertentu,” kata Anwar kepada Fakta.com, baru-baru ini.

Bagikan:
tingkat kemiskinankemiskinanekonomi era jokowipertumbuhan ekonomi 8 persenoutlook ekonomi indonesiaekonomifakta.comBonusDemografiIndonesiaEmas2045
Loading...
ADS

Trending

Update News

Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Pidato Prabowo Soal Kemiskinan...