Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Ekonomi 2025 dan Wanti-wanti B...

Ekonomi 2025 dan Wanti-wanti Bonus Demografi jadi Bencana Demografi

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dokumen Kemenkeu)

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dokumen Kemenkeu)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Transisi pemerintahan sudah semakin dekat. Indonesia punya impian untuk jadi lebih hebat.

Di antaranya pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah. Bukan lagi sekadar angan, hal tersebut harus dicapai tanpa beralasan.

Berbicara tentang angka pertumbuhan, Ekonom Segara Research Institute, Piter Abdullah menyebut Indonesia harus mengakselerasi ekonomi agar dapat tumbuh di atas 7% tiap tahunnya. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan agar bonus demografi tidak berubah menjadi bencana demografi.

“Prabowo punya tim dan timnya yang kita minta untuk mencari solusi-solusi itu,” kata Piter kepada Fakta.com, Kamis (15/8/2024).

Selain Asumsi Makro, Ini Kerangka Ekonomi dan Pokok Kebijakan Fiskal 2025

Untuk mencapai hal tersebut, perlu ada terobosan kebijakan. Menurutnya, untuk mencapai hasil berbeda, kita harus melakukan upaya dan solusi yang berbeda.

“ICOR harus kita turunkan, investasi harus kita tingkatkan, sistem insentif di dalam perekonomian harus kita perbaiki agar kita mendorong orang itu untuk produktif,” kata Piter menambahkan.

Piter bilang, saat ini model perekonomian Indonesia sangat rente. Artinya, sangat mencari keuntungan dari suku bunga yang tinggi.

Hal ini membuat penyaluran uang dari perbankan terhadap perekonomian belum optimal.

“Kalau kita lihat angka-angka indikatornya, rasio kredit perbankan terhadap PDB masih sangat rendah,” ujar Piter.

Pemerintah dan DPR Sepakati Asumsi Makro 2025, Ini Perbandingannya dengan 2024

Menurut Piter, hal itu disebabkan oleh kesalahan kebijakan. Karena itu, perlu dikoreksi dan diperbaiki agar perbankan itu lebih aktif untuk membiayai perekonomian.

Di samping itu, pemerintah perlu memperluas ruang fiskal. Hal ini tergantung dengan terobosan-terobosan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

“Artinya yang kita harapkan adalah Pemerintahan Prabowo yang baru ini bisa menempatkan orang-orang terbaik agar semua solusinya bisa didapatkan,” tutur Piter.

Seperti diketahui, hari ini (Jumat, 16/8/2024), Presiden Joko Widodo (Jokowi) diagendakan akan membaca dua pidato di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta.

Selain Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2024, Jokowi juga akan berpidato dalam rangka Penyampaian Rancangan Undang-Undang (RUU) Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025 beserta Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya.

Home Ekonomi Gubernur BI Lebih Optimis Terhadap Asumsi Makro Ekonomi 2025

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memaparkan, pemerintah dan Komisi XI DPR RI telah menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2025.

Dalam kesepakatan itu, pertumbuhan ekonomi 2025 ditargetkan dalam kisaran 5,1%-5,5%. Kemudian, inflasi tahunan 1,5%-3,5%.

Selain itu, nilai tukar rupiah Rp15.300-Rp15.900 per US$. Serta tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun 6,9% hingga 7,2%.

Lalu, indikator pembangunan mencakup nilai tukar petani (indeks) 115-120, dan nilai tukar nelayan (indeks) 105-108.

Bagikan:
nota keuangantransisi pemerintahanpertumbuhan ekonomi di era jokowifakta.comrapbn 2025apbn 2025pertumbuhan ekonomiekonomi
Loading...
ADS

Update News

Trending