Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Sempat <i>Hattrick</i> Lampaui...

Sempat Hattrick Lampaui Target, Penerimaan Pajak Tahun Ini Banyak 'PR'

Direktur Program INDEF, Eisha M. Rachbini dalam Webinar Publik INDEF, Warisan Utang ke Pemerintahan Mendatang. (Tangkapan layar Youtube INDEF)

Direktur Program INDEF, Eisha M. Rachbini dalam Webinar Publik INDEF, Warisan Utang ke Pemerintahan Mendatang. (Tangkapan layar Youtube INDEF)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Selama tiga tahun terakhir, Indonesia cetak hattrick  penerimaan pajak melampaui target. Secara beruntun, realisasi penerimaan pajak menyentuh angka 104%, 115,6%, dan 102,8%.

Namun, Institute for Development Economics and Finance (INDEF) mengungkap pencapaian tersebut diperoleh karena dibantu oleh windfall tax pada kenaikan harga komoditas.

Sebelum mendapatkan berkah harga peningkatan harga komoditas, realisasi pajak Indonesia selama beberapa tahun terakhir belum mencapai target. Tahun ini, harga komoditas mulai menurun, realisasi pajak pun mengalami perlambatan.

Per Mei 2024, realisasi penerimaan pajak Indonesia baru mencapai 38,23%.

“Ada kecenderungan bahwa realisasi penerimaan pajak dari tahun 2022 terlihat melambat,” ujar Direktur Program INDEF, Eisha M. Rachbini dalam Webinar Publik INDEF, Warisan Utang ke Pemerintahan Mendatang, Jakarta (4/7/2024).

Lebih Bijak Mencapai Target Penerimaan Pajak

Eisha mengungkapkan bahwa peningkatan harga komoditas selama masa pandemi mendongkrak realisasi penerimaan pajak hingga angkanya melebihi target yang ditetapkan. Namun, ketika harga komoditas penurun, kinerja penerimaan pajak melambat signifikan.

Perlambatan tersebut terlihat jelas secara sektoral pada data Januari-April 2024, sektor industri perdagangan dan pertambangan mengalami penurunan realisasi pajak year on year (yoy) signifikan sebesar 13,77% dan 63,79%. Ini berarti, saat ini dengan harga komoditas yang menurun, penerimaan pajak cenderung melambat.

Baru Tercapai Rp760,38 Triliun, Penerimaan Pajak Masih Melambat

Menanggapi hal tersebut, Eisha mengatakan penerimaan pajak masih perlu dioptimalkan kembali, apalagi jika melihat nilai rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang juga mengalami pola penurunan.

“Berbicara terkait dengan pendapatan, masih banyak yang harus dijadikan PR,” ungkap Eisha.

Lebih lanjut, Eisha mengungkapkan perlunya perhatian kepada sektor informal yang mendominasi tenaga kerja di Indonesia untuk mengoptimalkan penerimaan pajak.

Bagikan:
harga komoditasrasio pajak terhadap pdbfakta.compenerimaan pajakpajak
Loading...
ADS

Trending

Update News