Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Belanja Negara Banyak Terpakai...

Belanja Negara Banyak Terpakai Bayar Utang, Ekonomi RI Sulit Tumbuh

Diskusi Publik INDEF, Warisan Utang ke Pemerintahan Mendatang, Jakarta (4/7/2024). (Tangkapan layar Youtube INDEF)

Diskusi Publik INDEF, Warisan Utang ke Pemerintahan Mendatang, Jakarta (4/7/2024). (Tangkapan layar Youtube INDEF)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta -  Rata-rata defisit anggaran di era Presiden Joko Widodo cenderung lebih besar dibandingkan dengan era sebelumnya. Namun kondisi tersebut justru tak serta merta mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Prospek ekonomi seharusnya lebih hijau, tetapi kemudian reaksi yang terjadi sebaliknya,” kata Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto pada Diskusi Publik INDEF, Warisan Utang ke Pemerintahan Mendatang, Jakarta (4/7/2024). 

Menurut Eko, catatan tersebut ditandai dengan berbagai situasi, seperti capital outflow, depresiasi rupiah, dan penurunan Purchasing Manager Index (PMI).

Selain Asumsi Makro, Ini Kerangka Ekonomi dan Pokok Kebijakan Fiskal 2025

Eko pun mengungkapkan penyebabnya. Dalam hal ini, dia menyebut adanya aspek yang tidak rasional, terutama soal belanja modal yang semakin kecil.

“Belanja modal semakin kecil, itu menandakan ekonomi tidak akan tumbuh seperti yang diharapkan,” ujar Eko.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Program INDEF, Eisha Maghfiruha Rachbini mengungkap bahwa sepanjang tahun 2023, belanja negara dialokasikan untuk pembayaran bunga utang sebesar 19%, kemudian belanja pegawai sebesar 18%. Sementara itu, belanja modal justru memiliki proporsi yang relatif kecil, yaitu 11%. 

“Dengan proporsi seperti itu, rasanya kurang mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Eisha menambahkan.

Laporan Terbaru Bank Dunia, Pertumbuhan Ekonomi Global Lebih Stabil

Seperti diketahui, alokasi anggaran untuk belanja modal mampu meningkatkan kapasitas produksi dan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aset. Karena itu, belanja modal merupakan jenis belanja yang produktif. 

Pemaparan yang disampaikan oleh INDEF menyoroti bahwa meski pemerintah telah mengeluarkan belanja yang besar melalui defisit anggaran, alokasi anggarannya masih belum produktif apalagi mengingat porsi untuk pembayaran bunga utang dan belanja pegawai jauh lebih besar dibandingkan dengan belanja modal.

Bagikan:
anggaranbelanja modalfakta.comdefisit apbnpertumbuhan ekonomiapbn
ADS

Update News

Trending