Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. edukasi
  3. Kebiasaan Mengupil Bisa Tingka...

Kebiasaan Mengupil Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer

Ilustrasi mengupil. (Dokumen Shutterstock)

Ilustrasi mengupil. (Dokumen Shutterstock)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Ada penelitian yang unik yang menarik tentang mengupil. Para peneliti menemukan fakta bahwa ngupil bisa meningkatkan risiko Alzheimer, lho.

Dikutip dari Science Alert, Minggu (31/12/2023), peneliti menemukan ada spesies bakteri yang punya “rute” menuju ke otak. Nah, otak merespons kehadiran kuman itu melalui cara yang mirip dengan tanda Alzheimer.

Dalam penelitian yang terbit dalam jurnal Scientific Report pada November 2022, penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan dari Griffith University di Australia, mengetes bakteri Chlamydia pneumoniae pada seekor tikus. Sekadar informasi, bakteri ini bisa menyebabkan gejala pneumonia. Selain itu, bakteri ini juga ditemukan di sebagian besar otak manusia yang terkena demensia lanjut.

Alasan Kita Tidak Boleh Menahan Bersin

Melalui penelitian pada tikus, bakteri bisa menyebar ke saraf penciuman yang berada di rongga hidung dan otak. Ketika terjadi kerusakan di jaringan epitel hidung, infeksi saraf pun semakin parah.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Alzheimer?

Ketika ada infeksi, otak tikus akan melepaskan protein amiloid beta. Plak protein itu ternyata juga ditemukan pada penderita Alzheimer.

Wanita Ini Punya 300 Batu Ginjal gara-gara Doyan Minum Boba

Ahli saraf dari Griffith University, James St. John, mengatakan bahwa bakteri Chlamydia pneumoniae bisa menyebar langsung ke hidung dan otak. Para peneliti juga kaget bahwa infeksi bakteri itu terjadi dalam kurun waktu 24-72 jam. Ada kemungkinan bahwa hidung merupakan jalur cepat bagi bakteri dan virus menuju ke otak.

“Kami melihat ini terjadi di tikus dan hasilnya berpotensi menakutkan bagi manusia,” kata St. John.

Dia berkata belum ada kepastian hasil jika diuji kepada manusia. Maka dari itu, kata St. John, perlu ada tindak lanjut terhadap hasil riset ini untuk memahami neurodegeneratif.

“Kita perlu melakukan penelitian ini kepada manusia dan memastikan apakah (infeksi bakteri) memiliki jalur yang sama dan cara yang sama pula,” kata dia.

Mengupil Sering Dilakukan Orang

Berkenalan dengan Bakteri Wolbachia, Senjata Ampuh Lawan DBD

Sekadar informasi, mengupil sering dilakukan banyak orang. Menurut penelitian, ada 9 dari 10 orang yang “berburu harta karun” di hidung. St. John dan rekan peneliti berpendapat bahwa mengupil dan mencabuti bulu hidung bukanlah kegiatan yang baik. Dua kegiatan itu berpotensi merusak jaringan pelindung hidung.

Sementara itu, Alzheimer merupakan penyakit yang rumit. Makin tua seseorang, risiko terkena Alzheimer akan makin besar. 

“Namun, kami juga melihat penyebab lainnya bukan hanya usia, melainkan juga lingkungan,” kata dia.

Bagikan:
kesehatan masyarakatedukasisains
ADS

Update News

Trending