Cara Menikmati Puncak Hujan Meteor Eta Aquarids Besok Kata Pakar

Ilustrasi. Hujan meteor Eta Aquarids diprediksi akan mencapai puncak minggu depan. (dok. NASA)
FAKTA,COM, Jakarta – Puncak hujan meteor Eta Aquarids diperkirakan terjadi pada awal Mei. Apakah fenomena langit ini bisa disaksikan di Indonesia? Simak penjelasannya pakar berikut.
Hujan meteor Eta Aquarids, menurut keterangan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), merupakan fenomena langit tahunan yang disebabkan oleh komet 1P/Halley.
Berukuran sekitar 16 x 8 x 8 kilometer, Komet Halley melepaskan lapisan es dan batu setiap kembali ke bagian dalam tata surya. Kemudian, esnya menguap dan menghasilkan jejak gas serta butiran debu yang tersebar di sepanjang lintasan orbit komet.
“Butiran debu ini pada akhirnya menjadi hujan meteor Eta Aquarids di bulan Mei dan Orionid di bulan Oktober jika bertabrakan dengan atmosfer Bumi.”
Meteor Eta Aquarids dikenal karena kecepatannya yang tinggi, dapat melaju sekitar 40,7 mil atau 65,4 kilometer per detik saat memasuki atmosfer Bumi.
“Meteor yang cepat dapat meninggalkan "jejak" bercahaya (potongan puing yang berpijar di belakang meteor) yang dapat bertahan selama beberapa detik hingga menit,” demikian keterangan tertulis NASA.
Sementara itu, penamaan Eta Aquarids merujuk pada bintang-bintang paling terang di rasi Aquarius, Eta Aquarii, yang merupakan titik asal meteor-meteor ini tampak. Namun, meteor-meteor tersebut sebenarnya bukan berasal dari rasi bintang itu.
“Rasi bintang yang menjadi nama hujan meteor hanya berfungsi sebagai petunjuk untuk membantu para pengamat mengetahui hujan meteor mana yang mereka lihat pada malam tertentu. Rasi bintang tersebut bukanlah sumber dari meteor-meteor itu.”
Bisa dinikmati dari Indonesia
Menurut keterangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), fenomena langit tahunan ini telah berlangsung dari 20 April hingga 21 Mei 2025, dengan puncaknya terjadi pada 5-6 Mei 2025.
Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaludin, hujan meteor ini bisa dilihat di seluruh wilayah di Indonesia, termasuk Aceh.
Fenomena itu dapat disaksikan saat tengah malam hingga menjelang subuh, dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat bantu seperti teleskop.
“Hujan meteor lebih baik diamati tanpa teleskop, karena medan panjang teleskop sangat sempit. Hujan meteor menyebar dalam medan pandang yang luas,” ujar Thomas melalui e-mail kepada FAKTA, Rabu (30/4/2025).
Thomas menjelaskan, untuk dapat menyaksikannya terdapat tiga syarat utama, yaitu:
1. Cuaca cerah
2. Jauh dari polusi cahaya; matikan jika ada lampu di sekitar lokasi pengamatan
3. Medan pandang ke langit tidak terhalang bangunan atau pohon.
"Bila kondisi langitnya baik, bisa diamati ada beberapa meteor melintas setiap menitnya,” ujar Thomas.
What’s Up for May, skywatchers?
— NASA JPL (@NASAJPL) May 1, 2025
Mars and Jupiter in the evening skies; Venus and Saturn in the mornings – and early in the morning of May 6, be on the lookout for the Eta Aquarid meteor shower!
Skywatching tips: https://t.co/hS3XdwbwiS pic.twitter.com/AHGCrunhh8
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Antariksa BRIN, Farahhati Muhmtahana, menambahkan beberapa tips untuk dapat melihat fenomena tersebut.
Pertama, kata dia, diperlukannya langit yang “cerah”, dengan mencari tempat terpencil, gelap, dan jauh dari lampu-lampu kota.
Kedua, gunakan pakaian yang nyaman dan hangat serta perbekalan untuk menunggu, “karena butuh kesabaran”.
Terakhir, berdiri atau berbaring di bawah radian/titik di langit tempat meteor tampak.
“Meskipun meteor dapat muncul di bagian langit mana pun, semakin mendekati radian, semakin banyak meteor yang mungkin dapat dilihat,” pungkas dia, dalam keterangan tertulisnya.













