Mikroalga Penyerap Karbon ala BRIN, Diklaim Hemat Saring Air dan Udara

Penelitian spirulina platensis di fasilitas BRIN di Cibinong, Bogor. (dok. Awalina Satya dkk.)
FAKTA.COM, Jakarta – Ilmuwan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuat penelitian mikro-alga (ganggang berukuran kecil) yang bisa menyerap karbon dioksida (CO2). Kegunaannya terentang mulai dari pembersih limbah air hingga udara.
Ketua Tim Peneliti Pengembangan Teknologi Fotobioreaktor Mikroalga PRLSDA BRIN, Awalina Satya, menjelaskan teknologi ini terbukti secara ilmiah meningkatkan efisiensi biosekuestrasi karbon dioksida oleh mikroalga Spirulina platensis.
Selain itu, sekaligus mengoptimalkan proses fotosintesis berbasis pada pemilihan strain mikroalga unggul, formulasi medium pertumbuhan, pengendalian faktor irradiance, keasaman (pH), dan suhu.
Awalina menguraikan, mikroalga dikultivasi dalam suatu wadah tertentu. Wadah ini dioptimasikan konfigurasinya, sehingga memungkinkan mikroalga menyerap karbon dioksida secara optimum.
"Mikroalga sendiri secara inheren mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan biomassa dengan produktivitas 50 kali lebih tinggi dibandingkan tumbuhan darat pada umumnya," tutur dia.
Pihaknya pun melakukan rekayasa biologis-fisika-kimia terhadap alga tersebut agar bisa menjadi lebih banyak menyerap karbon dioksida.
"Dengan kita atur mediumnya, pemilihan strain mikroalga, intensitas penyinaran, serta sistem perpindahan massa yang berlangsung di dalam reaktor tersebut,” lanjut Awalina.
Dalam studi berjudul 'Case studies of photobioreactors employed in the treatment of wastewaters: a sustainable approach for Southeast Asian countries' yang terbit di Februari 2025, Awalina dkk. menyoroti manfaat teknologi ini untuk mengatasi pencemaran tanah, air, dan udara.
"Polutan memasuki badan air melalui berbagai sumber titik dan non-titik, dengan pembuangan air limbah menjadi salah satu yang utama," kata peneliti.
Sementara, metode pengolahan air limbah konvensional yang ada mahal. Peneliti pun mencoba pendekatan alternatif.
"Mikroalga baru-baru ini diidentifikasi sebagai metode remediasi polutan yang berpotensi hemat biaya melalui mekanisme bioakumulasi, biosorpsi, dan degradasi intraseluler," kara Awalina dkk.
Kerja sama bisnis
Imbas penelitian tersebut, BRIN menandatangani kerja sama dengan PT Alam Semesta Integra (ASI) untuk mengembangkan teknologi fotobioreaktor Mikroalga, yang dinamakan Olimpus.
“Ini adalah salah satu langkah konkret untuk mengatasi tantangan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini," kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, dalam acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Penerapan Sistem Fotobioreaktor Mikroalga dan Renewable Energy Untuk Carbon Capture Utilization Storage (CCUS), di Jakarta, Senin (10/3/2025).
Di tempat yang sama, Direktur PT ASI, Eddy Setiawan, menambahkan bahwa Olimpus tidak hanya mampu mengurangi emisi karbon, tetapi juga dapat menghasilkan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Konferensi pers teknologi fotobioreaktor mikroalga di BRIN, Jakarta, Senin (10/3/2025). (Fakta.com/Ghazy Rabbani)
“Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat berkontribusi dalam inovasi teknologi yang mendukung dekarbonisasi dan menciptakan solusi energi yang lebih ramah lingkungan,” imbuhnya.
Olimpus direncanakan akan ditempatkan di SPBU, terminal, area publik, serta kawasan industri di kota-kota besar untuk mengurangi polusi dan meningkatkan kualitas udara.
Menjadi solusi iklim?
Di tempat yang sama, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengungkap teknologi ini bisa mengurangi tumpukan karbon di atmosfer.
“[Teknologi] ini sangat baik karena kita mengetahui tumpukan sampah makin lama makin banyak," ujarnya di tempay yang sama.
Sebagai analogi, kata dia, 1 ton sampah padat bisa menghasilkan sekitar 50 kg metana (CH₄) yang terbuang ke troposfer dan stratosfer. Dikalikan dengan faktor ekuivalensi CO₂, misalnya 34, maka hasilnya setara dengan 1.700 kg CO₂.
"Jadi, hanya dari 1 ton sampah saja, sudah ada 1.700 kg CO₂ yang menumpuk di atmosfer,” ujar Diaz.
Di sisi lain, Kepala Badan Riset dan Teknologi di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Britek Kadin) Ilham Akbar Habibie menjelaskan teknologi ini dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan emisi, yang pada akhirnya berdampak pada perubahan iklim.
Namun, ia menekankan bahwa mengatasi perubahan iklim tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang.
“Kalau kita semuanya mulai melakukan misalnya CCUS ini sedunia itu akan dikurangi emisinya dan juga akan ada dampak kepada iklim,” kata ilham.














