Hobi Nonton Video Kekerasan di Medsos Bisa Bikin Jadi Pembunuh, Kata Ahli

Ilustrasi. Kebiasaan menonton kekerasan bisa berpengaruh pada perilaku penontonnya. (Antara)
FAKTA.COM, Jakarta – Para ahli mengungkapkan menonton kekerasan secara daring, seperti video penyiksaan, mutilasi, pemenggalan, memiliki hubungan dengan tindakan kekerasan di dunia nyata.
"Kita harus tegas tentang hal ini – perilaku ini tidak akan bisa ada tanpa internet, karena internet adalah sumber ide (yang menunjukkan) jenis kekerasan tertentu merupakan solusi,” kata Jonathan Hall, peninjau independen Undang-Undang Terorisme Inggris, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Senin (3/3/2025).
Dirinya juga turut mengungkapkan adanya kelompok ancaman baru yang menggabungkan teroris yang tercuci otak secara daring setelah mendalami konten ekstrem di internet dengan mereka yang sudah lebih dulu terjerumus ke dalam dunia gelap.
Kelompok ini, kata Hall, memiliki sejumlah kesamaan. Di antaranya, cenderung merupakan laki-laki yang hidup dalam isolasi sebagai penyendiri, menjadikan internet sebagai pusat perhatian, serta mengalami neurodivergent —kondisi di mana cara kerja otak mereka dianggap berbeda dari standar yang normal.
Di sisi lain, Profesor Kriminologi di Birmingham City University, David Wilson, mengamati kemunculan pembunuh "0 hingga 100." Yaitu, individu yang langsung melakukan pembunuhan tanpa melalui tahapan kejahatan yang biasanya berkembang secara bertahap.
Berbeda dari pola umum di mana seseorang mungkin memulai dengan tindakan kriminal kecil sebelum meningkat ke kejahatan yang lebih serius, para pelaku kejahatan ini langsung melompat ke tindakan pembunuhan. Menurut David, hal ini disebabkan oleh konten media sosial yang “semakin ekstrem.”
Senada, Greg Stewart, seorang pengacara pidana dan mantan pimpinan peradilan remaja untuk Law Society, mengatakan pendekatan lama yang melihat kejahatan sebagai sebuah "eskalator", di mana individu berkembang dari pelanggaran ringan ke kejahatan yang lebih serius telah “dinonaktifkan”.
Akibatnya, pelaku kejahatan yang sebelumnya akan melalui beberapa tahapan, kini langsung melonjak ke tindakan yang jauh lebih serius.
“Jadi Anda cenderung berubah dari tingkat yang rendah ke tingkat keseriusan yang sangat tinggi,” kata Greg, seraya menambahkan bahwa ada tumpang tindih antara autisme, perilaku obsesif, dan menjadi radikal secara daring.
Targetkan anak muda
Julia Davidson, profesor peradilan pidana dan kejahatan dunia maya di University of East London, mengatakan banyak bukti efek paparan konten kekerasan terhadap anak muda.
Banyak dari anak muda, kata dia, menonton aksi kekerasan sebagai bentuk ujian agar diterima dalam suatu kelompok yang membuatnya merasa tertekan.
“[Anak muda merasa tertekan] untuk menonton aksi kekerasan dan itu menjadi ujian untuk menjadi bagian dari suatu kelompok”, kata Julia.
Almudena Lara, direktur kebijakan Ofcom untuk keselamatan anak, setuju bahwa anak-anak menjadi sasaran konten kekerasan.

Ilustrasi. Medsos-medsos punya kebijakan internal, yang lazim disebut Standar Komunitas, buat pelaporan dan penghapusan konten tertentu. (dok. Pixabay)
"Badai konten kekerasan, konten yang mempromosikan pelecehan dan kebencian, dan seringkali konten yang sangat misoginis dan konten pornografi, semuanya diberikan kepada mereka dengan cara yang hampir membuatnya tidak dapat dihindari," tuturnya.
Direktur Ofcom itu menyebut seharusnya platform media sosial tidak mendorong konten kekerasan kepada anak demi mengurangi efek jangka panjang dari paparannya.
Di sisi lain, penasihat hukum Online Safety Act Network, Lorna Woods mengaku khawatir regulasi mandiri dari platform media sosial “tidak akan cukup” untuk mengatasi masalah tersebut, terutama jika hanya mengandalkan penghapusan konten.













