Kenapa Jabodetabek Rajin Hujan Deras Beberapa Hari Terakhir?

Ilustrasi. Hujan lebat di Jabodetabek yang memicu banjir dipicu oleh beragam fenomena cuaca. (dok. Freepik)
FAKTA.COM, Jakarta – Hujan lebat yang rutin turun yang memicu banjir di Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) disebut terkait beragam fenomena cuaca. Simak rinciannya berikut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam Ikhtisar Cuaca yang berlaku dari 3 sampai 5 Maret 2025, mengungkap deret wilayah di Jabodetabek yang mengalami curah hujan tertinggi.
Berdasarkan data BMKG per 4 Maret 2025, lima lokasi dengan curah hujan tertinggi di Jabodetabek yaitu:
1. Katulampa, Bogor: 232 mm per hari.
2. Automatic Weather Station (AWS) Cibeureum, Bogor: 144 mm.
3. Perum Jasa Tirta II Jatiasih, Bekasi: 141 mm.
4. Angke Hulu, Jaksel: 140 mm.
5. Stasiun Meteorologi Citeko, Cisarua, Bogor: 126 mm.
Akibat hujan deras itu, Jakarta, Bekasi, Tangerang dikepung banjir di banyak lokasi.
BMKG pun mengungkap sejumlah faktor meteorologi mempengaruhi hujan deras tersebut, kecuali fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang terpantau kurang signifikan.
Yang lebih berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan di Indonesia antara lain:
- Gelombang Rossby Ekuator, yang berpropagasi atau merambat ke arah barat, terpantau aktif di antaranya di Samudra Hindia barat Aceh hingga Kep. Nias, Samudra Hindia barat, seluruh Pulau Jawa-Bali, Laut Jawa.
- Gelombang Kelvin, yang merambat ke arah timur, terpantau aktif di Samudra Hindia barat Kep. Nias hingga Kep. Mentawai.
- Gelombang dengan Low Frequency yang cenderung persisten, terpantau aktif di Samudra Hindia barat Aceh hingga barat Kep. Mentawai, hingga Papua.
- Kombinasi antara MJO, gelombang Kelvin, gelombang Rossby Ekuator, dan
gelombang Low Frequency pada wilayah Samudra Hindia barat Kep. Nias hingga Kep. Mentawai.
- Suhu Muka Laut/Sea Surface Temperature (SST) dengan anomali (+0,5 derajat C s/d +2,9 derajat C). Faktor ini dapat meningkatkan potensi penguapan (penambahan massa uap air) di Samudra Hindia barat Aceh, hingga Samudera Pasifik utara Papua.
- Indeks surge. Saat ini terpantau +13,0 yang menunjukkan aliran massa udara dingin dari Gushi ke Hongkong signifikan.

Ilustrasi. Terbentuknya awan hujan melibatkan banyak faktor, terutama gelombang atmosfer yang dipengaruhi faktor angin dan tekanan udara. (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/foc)
- Sirkulasi siklonik, terpantau di Perairan Barat Aceh dan Samudra Hindia Barat daya Bengkulu. Hal ini membentuk daerah perlambatan angin (konvergensi) di Perairan Barat Aceh dan di Samudra Hindia Barat Daya Bengkulu.
- Daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) lain terpantau di antaranya memanjang dari Lampung hingga perairan utara Banten, Laut Jawa selatan Kalimantan Barat.
- Daerah pertemuan angin (konfluensi) terpantau di Laut Andaman, di Samudra hindia Selatan NTT hingga selatan Jawa.
- Labilitas Lokal Kuat yang mendukung proses pembentukan awan hujan (konvektif) pada skala lokal. Ini terdapat di banyak wilayah, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah.
Peringatan sebelum Ramadhan
Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menyebut dirinya sudah memberi peringatan soal potensi banjir Jabodetabek itu sebelum Ramadhan.
"Sudah saya ingatkan pada 28 Februari lalu mengenai waspadai cuaca ekstrem selama 10 hari pertama Ramadhan," ujarnya lewat akun X-nya, Selasa (4/3/2025).
Dalam penjelasannya di 28 Februari 2025 itu, ia memprediksi hujan deras di wilayah Jabodetabek yang dipicu oleh penggabungan sel hujan dengan radius yang cukup luas.
Sel-sel hujan yang terbentuk memiliki potensi untuk bergabung hingga meluas ke wilayah Depok, Cibinong, dan bahkan Jakarta bagian timur serta selatan.
“Kondisinya bisa mengakibatkan merger antar-sel dan hujan derasnya ini kemudian bisa meluas,” ungkapnya terpisah di akun Instagram-nya.
Erma pun memperingatkan potensi hujan deras di beberapa wilayah akan menyebabkan meluapnya daerah aliran sungai (DAS), yang kemudian mengakibatkan banjir.
“Seluruh pihak agar waspada selama 10 hari di bulan Ramadhan terhadap banjir-banjir yg bisa terjadi imbas meluapnya DAS Ciliwung karena hujan persisten yg mengguyur di sepanjang aliran DAS, dari Bogor hingga Jakarta. Agar selalu siaga dg potensi banjir besar di Jakarta” tulisnya.
Dirinya menegaskan perlunya melakukan langkah mitigasi di DAS-DAS di Jabodetabek guna mengurangi risiko banjir yang lebih luas.
“Salah satu imbas peningkatan hujan yg telah dimulai sejak 1 Maret adalah banjir di wilayah dekat DAS, dan akan berpotensi terus bertambah titik-titik lokasinya. Karena itu agar DAS² di Jabodetabek agar segera dimitigasi,” tandasnya.
Seluruh pihak agar waspada selama 10 hari di bulan Ramadhan terhadap banjir-banjir yg bisa terjadi imbas meluapnya DAS Ciliwung karena hujan persisten yg mengguyur di sepanjang aliran DAS, dari Bogor hingga Jakarta. Agar selalu siaga dg potensi banjir besar di Jakarta. pic.twitter.com/WPnDdXTOVa
— Prof. Dr. Erma Yulihastin (@EYulihastin) March 3, 2025













