Rekomendasi AI buat Jadi 'Guru' Menurut CEO NVIDIA Jensen Huang

Jensen Huang mengungkap AI andalannya buat belajar. (dok. Youtube/NVIDIA)
FAKTA.COM, Jakarta – CEO NVIDIA, Jensen Huang, merekomendasikan penggunaan tutor pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menjadi tutor bimbingan belajar secara virtual.
Kemunculan AI yang makin canggih memicu kekhawatiran banyak orang soal potensinya menggusur semua jenis pekerjaan manusia.
Menurut survei Gallup pada Agustus 2024, sekitar 75 persen masyarakat Amerika Serikat khawatir kecerdasan buatan akan mengurangi lapangan pekerjaan.
Bahkan, konsultan McKinsey pada 2023 merilis sebuah studi yang memperkirakan AI dapat mengotomatisasi hampir setengah dari seluruh “aktivitas pekerjaan” manusia pada 2030 nanti.
Namun, Huang melihat sisi lain. Kehadiran AI menurutnya tidak akan melemahkan peran manusia, melainkan semakin meningkatkan kemampuannya
“Hal itu (AI) tidak pernah membuat saya tiba-tiba berpikir, ‘Saya tidak lagi diperlukan,’” kata Huang, dalam wawancara di YouTube milik jurnalis Cleo Abram 'Huge Conversations', belum lama ini. “AI justru mendukung saya dan memberi saya kepercayaan diri untuk menangani hal-hal yang lebih ambisius.”
“Bayangkan sekarang semua orang dikelilingi oleh AI super yang sangat mahir dalam bidang tertentu ... Apa yang akan Anda rasakan? AI justru akan mendukung Anda. AI akan membuat Anda merasa lebih percaya diri,” tambahnya.
Dia pun menyarankan untuk mencari 'guru' alias tutor AI. Huang menyebut manfaat tutor berbasis AI ini banyak, seperti dapat mengajarkan berbagai topik dan membantu dalam pemrograman, membantu menulis, menganalisis, berpikir, dan bernalar.
“Jika ada satu hal yang saya anjurkan untuk dilakukan semua orang, itu adalah segera cari tutor AI,” kata Huang.

ChatGPT versi tercanggih tersedia dalam bentuk langganan berbayar. (OpenAI)
Huang mencontohkan kecerdasan buatan milik OpenAI, ChatGPT, yang menjadi tutor AI pilihannya. Menurutnya, ChatGPT merupakan AI yang “sangat luar biasa.”
Ia menyebut kecerdasan buatan seperti ChatGPT telah mengubah cara manusia mengakses informasi. Pengguna kini dapat memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan dengan lebih mudah dan cepat hanya dengan menanyakan AI tersebut tanpa perlu melakukan riset sendiri.
“Lebih mudah meminta ChatGPT untuk menanyakan apa pun yang Anda suka daripada melakukan penelitian sendiri. Jadi, kita telah menurunkan hambatan pemahaman, kita telah menurunkan hambatan pengetahuan, kita telah menurunkan hambatan kecerdasan, dan semua orang benar-benar harus mencobanya,” tambah Huang.
CEO NVIDIA itu sebelumnya juga pernah menyebutkan menggunakan Perplexity AI dalam wawancara dengan Bipartisan Policy Center pada September tahun lalu. Dirinya menggunakannya setiap hari untuk mempelajari banyak subjek, termasuk biologi digital.
“Setiap orang harus punya tutor mereka sendiri dan hari ini saya punya tutor sendiri dan tutor saya adalah Perplexity. Saya menggunakannya hampir setiap hari. Perplexity ini hebat…, sumber daya yang hebat,” ujarnya, ketika itu.
Grok-3 AI
Di sisi lain, CEO Tesla, Elon Musk, baru-baru ini memperkenalkan kecerdasan buatan seri terbarunya, Grok-3. Itu merupakan sebuah chatbot yang terintegrasi ke dalam platform miliknya, X (Twitter).
Musk menyebut AI ini memiliki “lebih dari 10 kali” daya komputasi dari versi yang sebelumnya, Grok-2, serta berhasil melewati uji coba (benchmark) dengan hasil yang memuaskan.musk

Miliarder Elon Musk dikritik lantaran keberpihakannya yang terlalu kuat kepada kelompok politik kanan di berbagai negara. (Antara)
"AI yang mencari kebenaran secara maksimal, bahkan jika kebenaran itu terkadang bertentangan dengan apa yang dianggap benar secara politik,” kata Musk saat livestream peluncuran AI tersebut, sebagaimana dikutip dari TheGuardian, Senin (3/3/2025).
Grok-3 juga dibekali dengan fitur Big Brain Mode yang diklaim mampu menangani tugas riset yang lebih kompleks dibandingkan chatbot biasa. Selain itu, model ini dilengkapi dengan DeepSearch, mesin pencari pintar berbasis penalaran yang dapat menjelaskan proses berpikirnya saat menjawab pertanyaan pengguna.
Meskipun demikian, Grok-3 tidak memiliki batasan yang umum seperti yang dimiliki kecerdasan buatan lainnya. Chatbot terebut dapat menghasilkan gambar dan teks yang menjurus ke arah seksual, vulgar dan lainnya.
Pengguna X pun menggunakan chatbot tersebut untuk mengejek tokoh politik, termasuk Musk sendiri, membuat deepfake artis, hingga memanipulasi konten ber-hak cipta.













