Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In

Ahli Ungkap Alasan Tikus Tak Risau dengan Gelap

Ilustrasi. Tikus punya kemampuan melihat dalam kegelapan berkat komposisi retinanya. (dok. Freepik)

Ilustrasi. Tikus punya kemampuan melihat dalam kegelapan berkat komposisi retinanya. (dok. Freepik)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Penelitian menunjukkan tikus memiliki kemampuan yang sangat efektif dalam menemukan sumber cahaya di tengah kegelapan, terutama pada malam hari. Buat satwa ini, kegelapan bukan masalah.

“Kami menemukan bahwa tikus, sebagai hewan nokturnal, menggunakan strategi pencarian yang lebih efisien untuk mendapatkan petunjuk visual pada malam hari,” menurut keterangan Sanna Koskela dkk. dari Faculty of Biological and Environmental Sciences, Molecular and Integrative Biosciences Research Programme, University of Helsinki, Finlandia.

Baca Juga: Spesies Baru Ikan Buta Ditemukan di Bogor, Terancam Tambang

Studi itu dimuat di jurnal Current Biologi berjudul 'Mice Reach Higher Visual Sensitivity at Night by Using a More Efficient Behavioral Strategy, terbit pada Januari 2020. 

Dalam percobaan yang dilakukan, hewan pengerat itu ditempatkan di dalam labirin dalam kondisi hampir gelap total dengan hanya satu sumber cahaya redup yang diletakkan di samping pintu keluar. Sebelumnya, tikus-tikus tersebut telah diadaptasi dengan kondisi tersebut selama kurang lebih 2 jam.

Dalam kondisi gelap, tikus bergerak secara lebih dinamis, seperti berputar-putar atau mengubah arah, untuk memastikan mereka dapat menangkap segala petunjuk visual di sekitarnya.

Mereka juga cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di area tengah labirin. Di sana, mereka bisa mengamati lingkungan dari berbagai sudut, sehingga memaksimalkan kemungkinan mendeteksi sumber cahaya.

Selain itu, mereka dengan cepat mengarahkan perhatian dan pandangan ke sumber cahaya tersebut untuk menentukan arah keluar.

Di sisi lain, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tikus yang telah belajar strategi pencarian ini pada malam hari dapat mengaplikasikannya juga di siang hari.

Hal ini membuat mereka mampu menyelesaikan tugas pencarian lebih cepat dibandingkan tikus yang belum memiliki pengalaman malam sebelumnya.

"Yang menarik, tikus dapat beralih ke strategi malam yang lebih efisien, bahkan saat mereka sedang dalam kondisi 'siang subjektif', setelah sebelumnya melakukan tugas tersebut pada malam hari,” menurut para peneliti.

Baca Juga: Mensesneg: Jangan Membelokkan, Tidak Ada Indonesia Gelap

Penglihatan ultraviolet

Penelitian lain mengungkap bahwa tikus sebenarnya memiliki penglihatan ultraviolet yang sangat bermanfaat untuk menghadapi keterbatasan cahaya. 

Hal itu terungkap dalam studi berjudul 'Why do mice have ultra-violet vision?' karya Peter Gouras dari Department of Ophthalmology, Columbia University, AS, dan Bjorn Ekesten dari School of Agriculture, Uppsala University, Swedia, yang terbit di Experimental Eye Research, Desember 2004.

Studi ini menemukan bahwa lensa mata tikus tidak memiliki filter penyerap ultraviolet seperti yang dimiliki manusia dan beberapa hewan lainnya.

Tikus, kata para peneliti, memiliki dua jenis sel kerucut pada retina mereka; satu yang sensitif terhadap cahaya hijau-kuning, dan satu lagi yang mampu menangkap cahaya ultraviolet. Kemampuan ini memungkinkan tikus melihat lebih banyak spektrum cahaya dibandingkan manusia.

Baca Juga: Prabowo: Yang Melihat Indonesia Gelap itu Siapa?
View this post on Instagram

A post shared by Faktacom (@faktacom)

“Tikus ternyata merupakan hewan yang luar biasa dalam hal pemrosesan visualnya. Tidak diragukan lagi bahwa tikus menggunakan sinar ultra-violet untuk melihat,” menurut Gouras dan Ekesten.

Hal ini meningkatkan sensitivitas mereka terhadap cahaya dengan kondisi redup dan memberikan keunggulan dalam mendeteksi objek atau pola yang mungkin tidak terlihat oleh spesies lain.

“Penglihatan tersebut meningkatkan kepekaan terhadap cahaya,” tandas peneliti.

Bagikan:
tikusstudiindonesia gelap#KaburAjaDulu#IndonesiaGelapprabowo subianto
Loading...
ADS

Update News

  1. Home
  2. teknologi
  3. Ahli Ungkap Alasan Tikus Tak R...

Lagu Sukatani di demo Indonesia Gelap

Logo Fakta
0:00 / 0:00

Lagu 'Bayar Bayar Bayar' milik band Sukatani bergema di demo Indonesia Gelap, Jumat (21/2/2025). (Fakta.com/Hendri Agung)

Trending