DeepSeek Menuai Kecurigaan Barat, Bakal Senasib dengan TikTok?

Ilustrasi. AS kembali mencurigai produk teknologi China, DeepSeek, usai memutuskan memblokir TikTok. (dok. Freepik)
FAKTA.COM, Jakarta – Parlemen Amerika Serikat (AS) mengusulkan pelarangan penggunaan DeepSeek, kecerdasan buatan (AI) dari China, pada perangkat pemerintah atas dasar kekhawatiran pada keamanan data.
Sebelumnya AS meloloskan undang-undang yang memaksa media sosial TikTok, yang sama-sama berasal dari China, menjual kepemilikannya kepada pihak yang berbasis di AS. Jika tidak, pemblokiran menanti.
Anggota parlemen Amerika Serikat, Darin LaHood dan Josh Gottheimer, mengajukan rancangan undang-undang yang mempermasalahkan isu keamanan nasional AS karena hubungan DeepSeek dengan pemerintah Negeri Tirai Bambu.
“Partai Komunis China telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa mereka akan mengeksploitasi alat apa pun yang dimilikinya untuk merusak keamanan nasional kita, menyebarkan disinformasi yang berbahaya, dan mengumpulkan data tentang warga Amerika,” kata Gottheimer, sebagimana dikutip dari CNN, Senin (10/2/2025).
Senada, ahli keamanan siber NordVPN, Adrianus Warmenhoven, menyebut DeepSeek dapat menimbulkan risiko yang lebih besar karena kebijakan keamanan siber China.
“Pengguna perlu menyadari bahwa data apa pun yang dibagikan dengan platform ini dapat tunduk pada akses pemerintah berdasarkan undang-undang keamanan siber China, yang mengamanatkan bahwa perusahaan memberikan akses ke data berdasarkan permintaan pihak berwenang,” kata Adrianus.
Pihak DeepSeek belum memberikan komentar terkait ini.
Di sisi lain, departemen dalam negeri Australia secara resmi menandatangani arahan yang melarang DeepSeek dari semua sistem dan perangkat pemerintah pada Selasa lalu. Pihak intelijen Australia menyebut AI tersebut menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima.

TikTok tumbuh signifikan di tengah kekhwatiran soal keamanan data di AS. (Dok. Statista)
Meski demikian, Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, menegaskan keputusan Australia tidak ada hubungannya dengan asal negara AI itu, melainkan karena risikonya terhadap pemerintah dan asetnya.
“Pemerintah Albanese (Perdana Menteri Australia) mengambil tindakan cepat dan tegas untuk melindungi keamanan nasional dan kepentingan nasional Australia,” kata Burke, sebagaimana dikutip dari The Guardian.
“AI adalah teknologi yang penuh potensi dan peluang – tetapi pemerintah tidak akan ragu untuk bertindak ketika lembaga kami mengidentifikasi adanya risiko keamanan nasional,” tambahnya.
Selsin itu, lembaga perlindungan data pribadi Italia, Garante, juga telah memblokir DeepSeek sepenuhnya di Negeri Pizza. Keputusan ini diambil karena perusahaan AI tersebut gagal memberikan informasi yang memadai terkait keamanan privasi penggunanya.
Meski demikian, kecurigaan AS dan sekutunya sejauh ini belum memberi bukti konkret. Selain itu, perundangan yang diusulkan parlemen masih dalam proses awal pengusulan.













