Matahari Buatan China Pecahkan Rekor, Nyala 2 Kali Lebih Lama

Fasilitas reaktor EAST, China. (dok. ITER)
FAKTA.COM, Jakarta – Reaktor fusi nuklir Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST), yang merupakan matahari buatan China, berhasil memecahkan rekor dunianya sendiri dalam mempertahankan plasma bersuhu sangat tinggi lebih lama dari sebelumnya.
Matahari buatan tersebut mampu mempertahankan putaran plasma yang stabil dan sangat terkendali selama 1.066 detik pada Senin (20/1/2024), lebih dari dua kali lipat dari rekor sebelumnya, yakni 403 detik, sebagaimana dilansir dari situs Chinese Academy of Science, dikutip dari Xinhua.
Song Yuntao, Direktur Institut Fisika Plasma di Akademi Ilmu Pengetahuan China (ASIPP), menekankan rekor baru ini memiliki makna yang sangat besar, mewakili langkah krusial menuju pengembangan reaktor fusi.
"Perangkat fusi harus mencapai operasi yang stabil pada efisiensi tinggi selama ribuan detik untuk memungkinkan sirkulasi plasma yang berkelanjutan, sangat penting untuk pembangkit energi berkelanjutan dari pembangkit fusi masa depan," katanya.
Kepala Divisi Fisika dan Operasi Eksperimental EAST, Gong Xianzu, mengaku meningkatkan beberapa sistem pada matahari buatannya sejak percobaan terakhir.
Misalnya, sistem pemanas yang sebelumnya beroperasi setara dengan hampir 70 ribu microwave rumah tangga, kini telah menggandakan dayanya sekaligus menjaga stabilitas dan kontinuitasnya.
Melansir LiveScience, matahari buatan menghasilkan energi mirip dengan Matahari betulan, yakni melalui fusi nuklir dengan dua atom ringan bergabung menjadi atom yang lebih berat menggunakan panas dan tekanan tinggi. Fusi nuklir diklaim menawarkan potensi sumber daya yang tidak terbatas tanpa memiliki emisi gas rumah kaca dan limbah nuklir.
Meski ilmuwan telah mengembangkan teknologi ini selama lebih dari 70 tahun, perkembangannya masih belum cukup cepat untuk menjadi solusi praktis dalam mengatasi krisis iklim. Para peneliti memperkirakan bahwa tenaga fusi bisa didapatkan dalam beberapa dekade lagi, atau bisa saja memakan waktu yang lebih lama.
Perbedaan Fusi dan Fisi NuklirSemua energi dihasilkan dari proses kimia dan fisika. Selama ini, energi didapat dengan membakar bahan seperti kayu, batu bara, dan gas, atau dengan memanfaatkan energi dari matahari, angin, dan air.
Selain itu, ada juga sumber energi lain, yaitu fusi dan fisi nuklir yang melibatkan perubahan inti atom.
Melansir dari Australian Nuclear Science and Technology Organisation, fisi nuklir adalah reaksi di mana inti atom terbelah menjadi dua atau lebih. Setiap kali atom terbelah, energi besar dilepaskan dalam bentuk panas dan radiasi.
Energi tersebut memanaskan air di dalam reaktor dan mengubahnya menjadi uap. Kemudian uap tersebut digunakan untuk memutar turbin guna menghasilkan listrik.
Reaksi fisi dicontohkan pada pembangkit listrik tenaga nuklir, menggunakan uranium dan plutonium karena mudah dikendalikan. Akan tetapi, pembangkit listrik fisi nuklir memiliki kelemahan karena menghasilkan inti yang tidak stabil dan memiliki sifat radioaktif selama jutaan tahun.
Sedangkan fusi merupakan proses di mana dua inti atom ringan bergabung untuk membentuk satu inti atom yang lebih berat sambil melepaskan sejumlah besar energi. Reaksi fusi terjadi dalam bentuk plasma, zat panas yang berbeda dari zat padat, cair, atau gas.
..jpg&w=1920&q=75)
Ilustrasi. Reaktor nuklir tengah dikembangkan di Indonesia. (Antara)
Ini merupakan proses yang sama seperti pada matahari, menghasilkan energi jauh lebih besar daripada fisi. Akan tetapi, reaksi ini sulit dipertahankan untuk jangka waktu yang lama karena besarnya tekanan dan suhu yang dibutuhkan untuk menyatukan inti atom.
Fusi tidak menghasilkan limbah nuklir radioaktif yang berumur panjang dan menghasilan inti yang stabil. Kecelakaan nuklir seperti di Fukushima Jepang, diklaim tidak mungkin terjadi pada reaktor fusi matahari buatan. Jika terjadi gangguan, plasma akan mendingin dalam hitungan detik dan reaksi akan berhenti.














