Geger Koin Jagat dan Alasan Bikin 'Rusuh' Jakarta-Bandung, Potensial Diblokir?

Koin Jagat memicu kontroversi lantaran membuat pemain merusak fasilitas umum. (tangkapan layar akun IG jagatapp_id)
FAKTA.COM, Jakarta – Koin Jagat, sebuah koin yang didapatkan dari aktivitas memburu harta karun berbasis daring lewat aplikasi Jagat – Find Family & Friends, memicu kontroversi lantaran menghasilkan kerusakan berbagai fasilitas umum. Simak potensi pemblokirannya.
Aplikasi yang sejauh ini diunduh sebanyak 5 juta kali di Google Play Store, itu merupakan platform sosial berbasis lokasi untuk membantu mengetahui lokasi keluarga dan teman.
“Jagat adalah aplikasi sosial peta berbasis lokasi yang membantu Anda tetap mengetahui lokasi keluarga dan teman Anda serta apa yang sedang mereka lakukan saat ini dan merekam interaksi harian Anda dengan mereka,” melansir laman Jagat, Rabu (15/1/2025).
App yang dibuat oleh WNI bernama Barry Beagen ini menawarkan aktivitas mencari 'harta karun' berupa koin yang biasa disebut ‘Koin Jagat’ dengan posisi yang diungkapkan lewat peta di dalam aplikasi.
Untuk mulai memainkannya, berikut tahapan meng-install aplikasi Jagat – Find Family & Friends di ponsel:
1. Unduh aplikasi di Google Play Store maupun App Store
2. Buat akun melalui akun Google atau Facebook.
3. Masukan nama pengguna yang diinginkan.
4. Izinkan aktivasi layanan, seperti notifikasi, peta, aktivitas pergerakan, dan lain-lain.
5. Aktifkan ‘peta harta karun’ pada bagian pojok kanan atas aplikasi.
6. Pilih koin yang ingin dicari beserta lokasinya.
7. Setelah menemukan koin, masukkan nomor dan kode di bagian belakang koin untuk ditukarkan menjadi uang tunai.
Iming-iming duit
Yang menjadi daya tarik utama app yang dirilis pada pada November 2022 ini adalah daya tukarnya dengan uang riil. Dia memiliki tiga jenis koin dengan nilai masing-masing; koin emas bernilai Rp100 juta, koin perak Rp10 juta, dan koin hoki Rp300 ribu sampai Rp1 juta.
Karena koin ini disebar di berbagai lokasi fasilitas umum (fasum), seperti taman, lapangan, orang pun berbondong-bondong memenuhi lokasi tersebut demi mencari koin.
Memang, pihak Jagat, dalam postingannya di media sosial, menyatakan "Koin tidak ditanam di dalam tanah atau di dalam tanaman yang jauh dari trotoar. Jangan merusak lingkungan saat mencari koin, ya!"
Namun, para pemburu harta karun tetap mencari-carinya dengan cara yang kadang merusak fasilitas umum. "Udah tau masyarakat SDM rendah semua, tama taman rusak mau tanggung jawab akibat program kalian?" cetus salah satu netizen.

Taman Tegallega rusak akibat aktivitas para pencari koin Jagat, Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/1/2025). (ANTARA/Rubby Jovan)
Robinson, seorang petugas ‘pasukan hijau’ dari Pekerja Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) mengungkapkan berbagai aktivitas bocah pencari koin yang berbahaya. Contohnya, memanjat tiang listrik di taman.
“Kemarin, anak-anak manjat tiang listrik untuk mencari koin itu,” katanya saat ditemui di Taman Wijaya IX, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2025).
“Takutnya kesetrum, namanya bocah-bocah, kesetrum nomor sekianlah,” imbuh dia.
Robinson juga menambahkan banyak orang pada akhir pekan lalu mencari koin tersebut dengan cara mengangkat bebatuan yang ada di taman tempat ia bertugas.
“Sabtu kemarin banyak orang nyari koin, Minggu juga, sampai batu diacak-acak.”
Senada, Pusat Pengelolaan Komplek Gelanggang Olahraga Bung Karno (PPKGBK) mengungkap paving block (bata beton) di area taman hingga lampu di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, mengalami kerusakan yang cukup parah imbas tren pencarian koin melalui aplikasi.
Direktur Umum PPKGBK Hadi Sulistia menegaskan pihak pengelola tidak pernah memberikan izin untuk kegiatan pencarian koin di kawasan tersebut.
PPKGBK, kata dia, telah meminta kepada pengembang aplikasi terkait untuk dapat mengambil tindakan tegas agar kegiatan ini tidak terus berlanjut.
Kerusakan sejenis terjadi di Bandung. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung bahkan harus memberi teguran kepada para pencari koin.
"Sudah dilakukan teguran lisan oleh petugas lapangan di sejumlah taman dan fasum. Terus dimonitor petugas di lapangan," kata Kepala Satpol PP Kota Bandung, Rasdian Setiadi di Bandung, Rabu (15/1/2025) dikutip dari Antara.
"Kalau masih merusak (taman) akan diberikan tindakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Jadi, kami terus melakukan monitoring," katanya.
Alasan 'kebrutalan' pemain
Kasandra Putranto, Psikolog Klinis Forensik dari Universitas Indonesia (UI), menilai permainan Koin Jagat ini bisa menyedot banyak antusiasme lantaran faktor persaingan dan penghargaan.
“Aspek pertama soal motivasi dan penghargaan. Koin yang tersebar dan iming-iming hadiah uang dapat menciptakan rasa kompetisi dan pencapaian," kata dia, Selasa (14/1/2025) dilansir Antara.
"Ketika individu berhasil menemukan koin, mereka merasakan kepuasan dan penghargaan, yang dapat meningkatkan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan perasaan senang,” lanjutnya.
Selain itu, lanjut Kasandra, dampak positif yang dapat muncul dari permainan tersebut adalah dari aspek keterlibatan sosial.
"Dapat menciptakan rasa kebersamaan di antara peserta. Masyarakat mungkin saling berbagi informasi tentang lokasi koin, yang dapat memperkuat ikatan sosial," tuturnya.
Sementara, perilaku negatif bisa muncul jika individu merasa tertekan untuk bersaing atau jika mereka merasa bahwa mereka harus melakukan apa saja untuk mendapatkan koin tersebut. Ia menyebut permainan itu pun bisa memicu perilaku agresif dan menimbulkan kerusakan fasilitas.
“Hal ini menunjukkan bahwa motivasi untuk mendapatkan koin dapat mendorong perilaku yang tidak etis atau merugikan."
"Berdasarkan teori perilaku sosial, individu mungkin meyakini bahwa tujuan mendapatkan koin dibenarkan sekali pun dengan cara yang tidak tepat, karena keterbatasan empati atau kesadaran akan dampak tindakan mereka terhadap orang lain dan lingkungan,” papar Kasandra.
Potensi diblokir
Usai beragam kritik di media sosial, pihak pengembang mengklarifikasi sejumlah hal, termasuk soal posisi koin yang tak mungkin "tersembunyi di balik batu bata atau tempat lain yang perlu dipaksa untuk dibuka."
"Koin di Kawasan GBK sudah tidak tersedia lagi, ya! Yuk, tetap jaga kebersihan dan fasilitas umum agar tetap nyaman dan indah untuk semua," menurut keterangan pengembang di akun Instagram jagatapp_id beberapa waktu lalu.
"Ingat, Treasure Hunt dibuat untuk seru-seruan sambil eksplor ruang publik dengan cara yang positif dan bertanggung jawab. Jadi, jangan sampai lupa buat tetap menjaga fasilitas di sekitar, ya!"
Meski begitu, kerusakan sudah kadung terjadi.
Selepas ramai kasus-kasus kerusakan itu, Koswara menyebut pihak pengembang aplikasi Jagat Koin mengaku akan bertanggung jawab.
"Ya tadi dilaporkan oleh Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP), dari pihak aplikasinya itu mau memperbaiki taman yang rusak. Mudah-mudahan benar janjinya," kata Penjabat (Pj) Wali Kota Bandung A Koswara di Bandung, Rabu (15/1/2025).
Sementara, Penjabat Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi mengaku akan berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital terkait izin aplikasi.
"Kami sudah minta kepada Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) untuk koordinasi dengan Kementerian Komdigi terkait evaluasi atau kajian terhadap aplikasi Koin Jagat," kata dia, belum lama ini, dilansir Antara.
"Kalau memang lebih banyak dampak negatifnya mudah-mudahan juga bisa di-take down," katanya.
Terpisah, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan pihaknya telah memanggil pengembang aplikasi Jagat .
"Sudah, kita sudah panggil, kita sudah ajak diskusi ini. Diskusi lagi berlangsung ketika kalian bertanya ini," ujar dia, di Jakarta, Rabu (15/1/2025).
Menurutnya, pengembang kemungkinan akan mengubah mekanisme permainan guna mencegah dampak negatif. Mereka juga berencana mengembangkan konsep baru yang lebih edukatif dan konstruktif tanpa merusak fasilitas umum.
"Jadi pengembangnya itu me-review dan kemudian mungkin akan mengubah pola permainannya untuk tidak sampai merusak. Jadi bahkan juga akan dilihat satu program yang lebih baru, yang lebih edukatif dan juga lebih konstruktif, gitu. Jadi tidak lagi merusak dan lain sebagainya," ujar dia.
Nezar juga mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada opsi untuk menutup aplikasi tersebut. Pihaknya berupaya untuk tidak menghambat inovasi dan kreativitas anak bangsa. (ANT)













