Prediksi Pakar, Pertarungan AI Vs AI di Dunia Siber 2025

Ilustrasi AI. 2025 diprediksi jadi tahun serangan siber dan kontra-serangan siber berbasis AI. (Mike MacKenzie/www.vpnsrus.com via flickr)
FAKTA.com, Jakarta – Tahun 2025 diprediksi jadi ajang unjuk gigi kecerdasan buatan atau Artifical Intelligence (AI) baik dalam hal serangan siber maupun penangkalannya. AI versus AI!
Hal ini diungkapkan oleh Palo Alto Networks, perusahaan keamanan siber, dalam media briefing prediksi keamanan siber, Selasa (14/1/2025).
“Tools AI, teknologi dan inovasi yang ada di AI itu justru mempercepat dan memperluas bahkan memperbesar potensi serangan berkait dengan serangan dalam dunia siber,” kata Adi Rusli, Country Manager Indonesia Palo Alto Networks, dalam ajang webinar itu.
Senada, Simon Green, President Asia Pacific and Japan at Palo Alto Networks, memprediksi pada 2025, "kawasan Asia Pasifik akan menghadapi badai ancaman siber berbasis AI yang kian meningkat dalam skala, kecanggihan, hingga dampak."
Adi melanjutkan AI bisa membuat aktor jahat (hacker) dalam mengembangkan serangan siber dengan modus memeras atau ransomware hingga melakukan pencurian data dalam hitungan menit.
“Kita punya statistik data terkait dengan seberapa cepat aktor-aktor jahat mengembangkan suatu ransomware, kemudian bagaimana mereka bisa compromised (bobol akses, Red),” kata dia.
“Kita enggak ngomong lagi bulan atau minggu atau hari, sekarang bicaranya menit,” imbuhnya.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Adi mengklaim bahwa AI juga dapat dimanfaatkan sebagai keamanan siber guna melawan aktor jahat tersebut.

Ilustrasi. Hacker diprediksi bakal makin lihai membobol imbas teknologi AI. (Antara)
Menurutnya kecerdasan buatan dapat digunakan untuk memonitor, mendeteksi, baik itu anomali ataupun penerobosan ketika sudah ada di infrastruktur. Ia juga bisa digunakan untuk menganalisis dan merespons jika terjadi insiden keamanan.
“Salah satu yang bisa dipakai tentunya adalah we fight AI with AI. Bukan sekedar hanya AI, tapi kita membutuhkan AI untuk keamanan siber yang bisa memberikan manfaat secara real-time.”
Prediksi keamanan siber 2025
Secara umum, Palo Alto mengungkap beberapa prediksi gangguan keamanan siber tahun ini di kawasan Asia Pasifik khususnya Indonesia.
Prediksi ini disampaikan dalam keterangan tertulis Palo Alto serta media briefing daring dari Steven Scheurmann, Wakil Direktur Regional untuk ASEAN, dan Arthur Tunggal Siahaan, System Engineering Manager di Palo Alto Networks.
“Prediksi ini mencakup lima tren utama yang diperkirakan akan muncul dalam kurun waktu 12 bulan ke depan dan dirancang agar para praktisi siber dapat mempersiapkan organisasi mereka dengan lebih baik,” ujar keterangan Palo Alto Networks.
Berikut prediksi-prediksi keamanan siber tahun ini:
1. Penyatuan infrastruktur keamanan siber
Pada tahun 2025, Palo Alto memperkirakan banyak organisasi keamanan siber akan mengurangi jumlah tools dan menggantinya ke satu platform terpadu guna mengurangi kompleksitas dan menawarkan peningkatan visibilitas juga kontrol.
Hal ini akan menciptakan struktur keamanan yang komprehensif dengan antarmuka pengawasan yang lebih sedikit, pertahanan lebih tangguh, hingga meningkatkan efisiensi.
2. Deepfake populer di 2025
Deepfake, teknologi yang memalsukan video, suara, atau gambar, sudah banyak digunakan untuk tujuan jahat. Baik itu buat menyebarkan misinformasi politik, hingga mendapatkan keuntungan finansial.
Para aktor jahat akan menggunakan teknologi AI generatif yang kian berkembang untuk melancarkan deepfake yang makin meyakinkan. Penggunaannya juga diprediksi akan semakin meluas.
3. Hype keamanan kuantum
Walau serangan kuantum belum dapat dilakukan, para pelaku ancaman diperkirakan akan menggunakan taktik "harvest now, decrypt later", menargetkan data yang akan dibuka kembali ketika teknologi kuantum telah berkembang.
Untuk mengatasi hal ini organisasi keamanan siber diperlukan mengadopsi pertahanan kuantum yang akan membantu mengamankan data dari berbagai ancaman.
“Untuk menanggulangi ancaman ini organisasi perlu mengadopsi pertahanan kuantum resistance, contohnya NIST (National Institute of Standards and Technology) baru-baru ini merilis standar akhir untuk kriptografi pasca kuantum, jadi transisi algoritma ini akan membantu mengamankan data dari ancaman kuantum di masa depan,” kata Arthur.
4. Transparansi buat raih kepercayaan
Pada tahun ini, para pembuat kebijakan di kawasan Asia Pasifik akan fokus pada transparansi AI karena data yang dipakainya adalah data masyarakat.
“Sangat-sangat penting adanya transparansi, sehingga dalam menanggapi AI banyak regulator sekarang meminta regulasi baru harus ada transparansi, harus ada laporan," kata Steven.
5. Fokus integritas produk dan keamanan rantai pasokan
Steven berpendapat integritas produk dan keamanan rantai pasokan atau ekosistem yang terlibat menjadi hal yang sangat kritikal karena semua saling terkoneksi.
“Anda akan melihat banyak organisasi-organisasi termasuk Indonesia, akan mengambil aplikasi dan memindahkannya ke cloud," ujar dia.
“Di lingkungan cloud, di mana kompleksitas dan skala mengikuti risiko, visibilitas real-time ini adalah sebagai suatu keharusan. Sehingga akan ada fokus lebih besar pada monitoring yang komprehensif,” ujar Arthur.













