Digencet Barat, Rusia Siap Kembangkan AI dengan Tiongkok

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pertemuan bilateral di Kazan, Rusia pada Selasa (22/10/2024). ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China/aa.
FAKTA.COM, Jakarta - Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyerukan kepada pemerintahannya dan Sberbank, salah satu bank terbesar di Rusia, untuk bekerja sama dengan Tiongkok dalam mengembangkan Aritifical Intelligence (AI).
Mengutip website Kremlin, Jumat (3/1/2025), Putin menyatakan akan melakukan kerja sama lebih lanjut dengan pemerintahan Tiongkok dalam penelitian dan pengembangan (AI).
Upaya ini dilakukan guna menantang dominasi AS dalam kemajuan teknologi, khususnya AI. Apalagi, Rusia mendapat sanksi pembatasan akses teknologi dari Barat.
Pembatasan akses teknologi terhadap Rusia menjadikan sejumlah produsen teknologi, terutama komputer, menghentikan ekspor ke Rusia. Hal ini pun menyebabkan hambatan dalam pengembangan AI di Moskow.
Sebelumnya, dalam konferensi AI yang digelar di Moskow, Rabu (11/12/2024), Putin juga mengajak anggota BRICS bergabung ke dalam jaringan aliansi AI bersama Rusia. Bukan itu saja, Putin juga turut mengundang para ilmuwan dunia guna berkolaborasi dalam hal ini.
“Rusia harus berpartisipasi dalam perlombaan global untuk membuat kecerdasan buatan yang kuat. Inilah solusi canggih yang ditengah dikerjakan para ilmuwan Rusia saat ini,” ujar Vladimir Putin.
Berdasarkan Global AI Index yang dipublikasikan oleh Tortoise Media, Rusia menempati peringkat ke-31 dari 83 negara dalam investasi, inovasi, dan implementasi AI.
Rusia juga berharap 80 persen pekerja di seluruh negerinya memiliki keterampilan menggunakan AI pada 2030. Sebab, hingga 2023, hanya 5 persen pekerja yang punya keterampilan menggunakan AI.
Perlu diketahui, pasar domestik AI di Rusia didominasi oleh YandexGPT buatan Yandex, serta GigaChat yang dikembangkan oleh Sberbank. (SCMP/GlobalTime/Kremlin.ru)













