Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In

Amazon Terancam Temu, Amazon Ancam Pedagang China

ChatGPT

ChatGPT

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Amazon, e-commerce asal Amerika Serikat, dilaporkan telah meminta para pedagang berdomisili di Tiongkok yang menggunakan platformnya untuk tidak menurunkan harga barang yang sama di e-commerce buatan China, Temu.

Amazon mengancam pedagang yang menetapkan harga lebih murah di Temu akan dikeluarkan dari program ‘Penawaran Unggulan’ Amazon. Amazon dikabarkan khawatir penggunanya beralih ke aplikasi Temu yang menawarkan harga produk lebih rendah.

Laporan itu diucapkan sejumlah pedagang di Tiongkok yang dikutip South China Morning Post, Senin (30/12/2024). Hingga kini, pihak Amazon belum mengeluarkan jawaban resmi terkait klaim dari para pedagang tersebut.

Desas-desus tentang Amazon yang menekan penjual Tiongkok muncul pekan lalu setelah Anker, merek populer yang menjual power bank dan aksesori pengisian daya baterai, menghapus daftar produknya di Temu.

Per Senin (23/12/2024), toko resmi Anker di aplikasi Temu sudah tidak lagi memiliki daftar produk yang dijual. Padahal, sebelumnya, toko tersebut memiliki lebih dari 40 barang yang dijual di Temu.

Baca Juga: DeepSeek V3: AI Pintar dari China, Kalahkan ChatGPT dan AI Meta?

Tapi, di Jerman, toko Anker masih menjual barang-barangnya di aplikasi Temu. Hingga kini, Anker tutup mulut terkait penutupan tokonya di aplikasi Temu khusus AS.

Amazon memang menjadi e-commerce pertama yang digunakan Anker untuk menjual produk-produknya di AS. Bahkan, Amazon memuji perusahaan yang berbasis di Changsha, Provinsi Hunan, itu sebagai contoh start-up yang menemukan kesuksesan bisnis di situs e-commerce.

Gambar: Amazon.com

Gambar: Amazon.com

Amazon memang sedang dikepung aplikasi belanja asal Tiongkok yang menawarkan produk lebih murah. Bulan lalu, Amazon bahkan meluncurkan Haul, bagian aplikasi yang menjual barang dengan harga di bawah US$20.

Selain Temu, Amazon memang digempur situs fast-fashion Shein, dan TikTok Shop milik ByteDance, yang telah meraup banyak konsumen di AS.

Baca Juga: Pemerintah Diminta Cermati Penetrasi e-commerce Asing

Temu memang sedang naik daun di AS. Aplikasi Temu dikembangkan sejak 2022 oleh perusahaan Whaleco Inc. yang berbasis di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Meskipun Whaleco Inc. berad di AS, tapi sejatinya merupakan bagian dari ekosistem Pinduoduo (PDD Holdings Inc.), perusahaan e-commerce besar yang berbasis di Shanghai, Tiongkok.

Temu dikabarkan telah menjadi peringkat ke-3 e-commerce yang paling banyak dikunjungi di dunia, bersaing dengan Amazon dan Alibaba. Bahkan, di Amerika Serikat sendiri, Temu menjadi aplikasi belanja yang didownload terbanyak di App Store, mengalahkan Amazon.

Temu mengadopsi model bisnis yang mirip dengan perusahaan induknya, Pinduoduo, yang menghubungkan konsumen langsung dengan produsen atau pemasok. Hal ini memungkinkan Temu menawarkan harga yang lebih kompetitif karena mengurangi perantara dalam rantai pasokan.

Kekhawatiran ini tidak hanya terjadi pada Amazon. Sebelumnya, pemerintah Indonesia mengkhawatirkan kehadiran e-commerce asal Tiongkok ini. Pemerintah menganggap e-commerce tersebut dapat mengancam UMKM di Indonesia, khususnya re-seller dan distributor. (SCMP/TechNode)

Baca Juga: Menkominfo Pastikan Aplikasi TEMU Dilarang Beroperasi di Indonesia
Bagikan:
e-commerceamazonTemuperdagangan digital
ADS

Trending

Update News

  1. Home
  2. teknologi
  3. Amazon Terancam Temu, Amazon A...