Kepuasan pada Prabowo Bukan Karena Program MBG, tapi Soal Tegas-Berwibawa

Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memicu banyak kepuasan publik karena soal figur, bukan program. (tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)
FAKTA.COM, Jakarta – Dua program andalan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan 3 Juta Rumah, tak jadi alasan utama masyarakat Indonesia puas dengan kinerjanya. Faktor sosok lebih dominan.
Hal tersebut terungkap dalam survei Indikator Politik Indonesia yang digelar pada 16 hingga 21 Januari 2025. Dengan responden berjumlah 1.220 orang, survei dengan metode multistage random sampling ini punya margin of error +/- 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Indikator mengungkap kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto dan Kabinet Merah Putih selama 100 hari kerja, yang tepat jatuh pada 28 Januari 2025, mencapai 79,3 persen.
"Mayoritas merasa puas dengan kinerja Presiden Prabowo Subianto, 79.3%," demikian keterangan Indikator Politik.
Alasan utama kepuasan itu ialah Prabowo terlihat sebagai sosok yang “tegas, berwibawa, berani, dan bijaksana” dengan skor hingga 18,9 persen.
Posisi kedua ditempati oleh alasan “pemberantasan korupsi berjalan dengan baik” dengan skor 17,4 persen. Posisi ketiga ditempati oleh alasan “kinerjanya bagus, sudah terbukti kinerjanya” dengan skor mencapai 12,8 persen.
Posisi keempat ditempati oleh alasan “banyak program kerja yang mulai terealisasi” (9,2 persen). Posisi kelima ditempati oleh alasan “sering memberi bantuan” (5,9 persen).

Deret alasan puas dengan kinerja Presiden Prabowo. (dok. Indikator)
Di mana program-program andalan Prabowo?
Indikator mengungkap ada dua program unggulan pemerintah yang disoroti dalam survei ini. Yakni, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Program 3 Juta Rumah Rakyat.
Dalam survei ini, responden hanya menempatkan satu program andalan sebagai alasan kepuasan terhadap Prabowo. Yakni, program MBG, yang berada di posisi keenam alasan kepuasan publik dengan skor 5,7 persen.
Sementara, program 3 Juta Rumah Rakyat tak masuk sama sekali dalam deret 29 alasan utama kepuasan masyarakat terhadap Prabowo.
Sikap masyarakat terhadap MBG
Berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia, masyarakat secara luas tahu soal program MBG (91,3 persen), amat dominan bila dibandingkan mereka yang tak tahu (8,7 persen).
Selain itu, pihak yang setuju terhadap program MBG juga dominan, yakni mencapai 87,1 persen. Kemudian, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap program MBG untuk membantu pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia mencapai 76,9 persen.
Sedangkan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap program MBG untuk membantu mengatasi masalah stunting (gizi buruk) di Indonesia mencapai 78,4 persen.
Sebanyak 47,4 persen responden juga sepakat MBG sebaiknya diberikan kepada seluruh anak di Indonesia, alih-alih hanya diberikan kepada yang membutuhkan saja atau khusus anak-anak yang berasal dari wilayah terpencil dan miskin saja.

Program MBG punya popularitas sangat tinggi. (dok. Indikator)
Berbanding terbalik dengan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap program MBG, hasil survei Indikator Politik Indonesia memaparkan lebih banyak anggota keluarga yang bukan merupakan penerima MBG.
Dari seluruh responden, hanya 16,5 persen yang merupakan penerima MBG. Sebanyak 83,5 persen sisanya bukan merupakan penerima MBG.
Lembaga survei menyebut kesenjangan antara harapan dan realisasi program itu malah memicu ketidakpuasan.
"Ada gap yang sangat lebar, dan ini akan menjadi tantangan tersendiri," kata Indikator.
"Kesenjangan yang lebar antara harapan publik dengan fakta di lapangan akan mendorong pada ketidak-puasan dan ketidak-percayaan terhadap pemerintah," lanjut keterangan itu.
"Pemerintah harus bisa memberikan respon yang tepat, agar kepercayaan publik yang begitu besar bisa terjaga, begitu juga dengan stabilitas politik dan pemerintahan."
Dalam pelaksanaannya, MBG juga terkendala banyak hal. Di antaranya, masalah anggaran, menu yang dikeluhkan banyak siswa, makanan basi, keracunan, hingga kebakaran dapur MBG.
Berbeda dari MBG, program 3 Juta Rumah Rakyat belum banyak dikenal publik. Yakni, 31,2 persen yang tahu berbanding 68,8 persen yang tak kenal.
Meski begitu, secara total 9,8 persen sangat setuju dengan program tersebut, 73,3 persen setuju, 4,7 persen kurang setuju, 1,2 persen tidak sama sekali, dan 10,9 tidak menjawab atau tidak tahu.
"Sekitar 31.2% warga tahu program penyediaan rumah murah untuk masyarakat desa dan yang membutuhkan, dan mayoritas setuju dengan program tersebut," kata Indikator.
Pelan-pelan saja
Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan, Philips Jusario Vermonte, menyebut program MBG bersifat struktural. Sehingga, pelaksanaannya pun bertahap.
“Karena bersifat struktural, nanti harus memenuhi kebutuhan 80 juta anak. Tentu saja harus dimulai dari pelan-pelan,” kata Philips saat menghadiri rilis survei yang dilakukan secara daring, dikutip dari Antara.
Selain itu, dia berpendapat bahwa ketidakpuasan terjadi karena saat ini Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur produksi MBG baru berjalan sekitar 230 satuan untuk melayani kebutuhan kurang lebih 650 ribu anak.
“Nanti akhir Agustus diharapkan ada 5 ribuan dapur, dan lebih meng-cover (memenuhi kebutuhan, Red) lebih banyak anak, sehingga poinnya adalah sama seperti tadi, ini sifatnya struktural, bukan quick wins, yang harus dilihat hasilnya dalam 3 bulan pertama,” jelasnya.













