Belum Lanjut Dialog Perdamaian, Dubes Rusia: Kendala di Ukraina

Ilustrasi Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Presiden AS, Donald Trump, abaikan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Fakta.com/Putut Pramudiko
FAKTA.COM, Jakarta - Rusia hingga saat ini belum melanjutkan perundingan perdamaian dengan Ukraina yang digagas oleh Amerika Serikat. Hal itu ditegaskan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, saat berbicara dengan wartawan di Kedubes Rusia, Jakarta, Senin (28/4/2025).
“Yang saya ketahui, hingga saat ini belum ada pembicaraan langsung antara Rusia dan Ukraina. Kami akan membahas masalah ini dengan pihak AS, Ukraina juga sedang membahas ini dengan AS,” ujar Tolchenov.
Tolchenov menegaskan bahwa Presiden Rusia, Vladmir Putin, telah mengajukan usulan perdamaian. Tetapi, hingga saat ini masih ada beberapa kendala dari pihak Ukraina.
Tolchenov mengklaim kendala perdamaian setidaknya melibatkan tiga hal, yang semuanya bermuara pada Ukraina.
Rusia secara resmi akui keterlibatan pasukan Korea Utara dalam perang melawan Ukraina, sesuai Perjanjian Kemitraan Strategis 2024. Kepala Staf Rusia Valery Gerasimov sampaikan hal ini langsung ke Putin, sementara Korut konfirmasi pengiriman pasukan atas perintah Kim Jong-un.… pic.twitter.com/tChyUPk9Kr
— Faktacom (@Faktacom_) April 28, 2025
Pertama, Rusia menilai perdamaian terhambat lantaran adanya dekrit Presiden Ukraina, Voldymyr Zelensky, yang melarang adanya perundingan damai dengan Rusia.
Kedua, Rusia ingin menegaskan bahwa perundingan tersebut nantinya bukan untuk memberi angkatan bersenjata Ukraina jeda untuk menata ulang dan memperkuat kapasitasnya.
Ketiga, Tolchenov menyebutkan bahwa Rusia mengajukan kepentingan nasional yang harus diperhitungkan oleh Ukraina, yang sebelumnya sudah berkali-kali diajukan Rusia.
"Jadi, tidak ada NATO yang dekat dengan perbatasan kami, tidak ada keanggotaan Ukraina di NATO, tidak ada pangkalan militer NATO di wilayah Ukraina, dan juga penghormatan terhadap hak dan kebebasan penduduk berbahasa Rusia di Ukraina," kata Tolchenov terkait kepentingan Rusia.
Krimea ke Rusia. Donald Trump kritik sikap Ukraina via Truth Social, sebut Krimea sudah direbut 10 tahun lalu. AS juga tunda pertemuan Menlu Marco Rubio dengan Zelenskyy terkait kerja sama bilateral. Zelenskyy tegaskan tak akan akui Krimea sebagai wilayah Rusia.#KrisisUkraina… pic.twitter.com/WSsxFDKbcM
— Faktacom (@Faktacom_) April 24, 2025
Ia menambahkan, perundingan perdamaian dan rancangan perjanjian kedua Rusia-Ukrian sejatinya sudah dibahas dan diprakasai pada Maret-April 2022. Tolchenov mengatakan Rusia ingin menlanjutkan perundingan perdamaian mengacu pada rancangan itu.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, bertemu di sela-sela upacara pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan, Sabtu (26/4/2025). Keduanya bertemu empat mata di dalam Basilika Santo Petrus dan difasilitasi otoritas Vatikan.
Media Ukraina, mengutip juru bicara kepresidenan Ukraina Serhii Nykyforov, melaporkan Trump dan Zelenskyy berbincang selama beberapa menit sebelum mengikuti upacara pemakaman Paus Fransiskus di Lapangan Santo Petrus.
"Baru saja mendarat di Roma. Hari yang baik dalam pembicaraan dan pertemuan dengan Rusia dan Ukraina. Mereka sangat dekat dengan kesepakatan, dan kedua belah pihak sekarang harus bertemu, pada tingkat yang sangat tinggi, untuk 'menyelesaikannya'," cuit Trump akun Truth Social miliknya.
Trump mengatakan telah meminta kepada Zelensky untuk melanjutkan rencana perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Terutama, kata Trump, untuk menyelesaikan terlebih dulu poin-poin utama yang sebelumnya telah disetujui.
"Sebagian besar poin utama telah disetujui," tambah Trump dalam cuitan tersebut.













