Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. pangea
  3. AS Klaim 50 Negara Minta Negos...

AS Klaim 50 Negara Minta Negosiasi Tarif Trump

Presiden AS, Donald Trump, merayakan Bulan Sejarah Wanita AS di Gedung Putih, Washington, 27 Maret 2025. Foto: White House

Presiden AS, Donald Trump, merayakan Bulan Sejarah Wanita AS di Gedung Putih, Washington, 27 Maret 2025. Foto: White House

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Amerika Serikat mengklaim lebih dari 50 negara terdampak tarif impor baru yang diumumkan Presiden Donald Trump, beberapa waktu lalu, meminta negosiasi terkait pencabutan tarif.

"Saya mendapat laporan dari (Perwakilan Dagang AS) tadi malam bahwa sudah lebih dari 50 negara berkomunikasi dengan presiden kita untuk meminta negosiasi," ucap Ketua Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett, Minggu (6/4/2025) waktu setempat.

Dalam wawancara bersama George Stephanopoulos dalam acara This Week di ABC News, Hassett mengatakan bahwa negara-negara tersebut marah dan berusaha membalas, namun mereka "juga mau datang ke meja negosiasi".

"Mereka melakukannya karena paham mereka menanggung banyak sekali tarif," kata dia.

Baca Juga: Bursa Saham Global Anjlok Efek Tarif Trump, BEI Imbau Investor Tetap Tenang

Hassett menganggap bahwa pemberlakuan tarif tak akan berdampak besar bagi konsumen di AS, karena negara-negara tersebut "memiliki suplai yang sangat tidak elastis" sehingga AS "mengalami defisit dagang yang berkepanjangan dan berlangsung lama".

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penerapan tarif bea masuk tambahan bagi produk-produk dari banyak negara, Rabu (2/4/2025). Penerapan tarif paling banyak dikenakan pada negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS, salah satunya Indonesia.

Baca Juga: Prabowo Kunjungi Anwar Ibrahim di Malaysia, Bahas Tarif Trump

Kebijakan tarif resiprokal ini menetapkan tarif minimum sebesar 10 persen terhadap produk impor AS. Tarif lebih tinggi dikenakan pada 57 negara.

Trump mengatakan pemberlakuan tarif itu untuk memulihkan keadilan bagi AS dalam perdagangan global yang selama ini selalu dirugikan. Dengan kebijakan tarif ini, ia yakin mendatangkan ratusan miliar pendapatan baru bagi pemerintah AS dan akan meningkatkan manufaktur AS.

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif impor memicu kecaman global dari berbagai pemimpin dunia. Kanada, China, Uni Eropa, Inggris, dan Australia menilai kebijakan ini merusak stabilitas perdagangan dan siap membalas atau menegosiasikan ulang. Para ahli ekonomi… pic.twitter.com/5L0NJFISQ1

— Faktacom (@Faktacom_) April 6, 2025

Tapi, sejumlah kalangan di AS justru melihat tarif resiprokal ini bakal membuat ekonomi Paman Sam terguncang. Mariana Mazzucato, dosen di Universitas California Los Angeles, mengatakan tarif Trump bisa membuat inflasi tinggi di AS.

Menurutnya, tarif Trump bisa menaikkan harga barang rumah tangga dan membuat keluarga AS tambah anggaran hingga 1.500 dolar per tahun.

Pemimpin Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, mengungkapan kebijakan tarif dagang Trump berpotensi memperburuk kondisi perekonomian AS. Menurutnya, kebijakan tarif dagang Trump berpotensi menghasilkan inflasi jangka panjang. Walhasil, hal tersebut juga berdampak terhadap prospek penurunan Fed Fund Rate (FFR).

“Kewajiban kita adalah menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga dengan baik dan memastikan bahwa kenaikan harga tidak menjadi masalah inflasi yang berkelanjutan,” imbuh Powell.

Baca Juga: The Fed: Tarif Dagang Trump Berpotensi Picu Inflasi Tinggi di AS

Hal yang sama diungkap eks Menteri Keuangan AS, Lawrence Summers, yang juga hadir dalam acara "This Week" ABC News. Ia mengatakan, tarif impor membawa dampak buruk bagi ekonomi domestik AS.

Menurut Summers, tarif impor mengakibatkan kenaikan harga dan meningkatnya inflasi. Kondisi tersebut, kata dia, menyebabkan daya beli masyarakat menurun sehingga "pekerjaan jadi berkurang." (ABC/USAToday/CNN/ANT)

Bagikan:
donald trumpkebijakan tarif Trumpinflasi Amerika Serikatamerika serikatthe fed
Loading...
ADS

Update News

Trending