Prancis Gelontorkan Jutaan Dolar demi Bantu Maritim Indonesia

Perwakilan Prancis dan UE meneken surat pernyataan kehendak (LoI) di di Rumah Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Rabu (26/3/2025). Foto: Fakta.com/Hanun Rifda.
FAKTA.COM, Jakarta - Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Panone, menegaskan penguatan hubungan Indonesia-Prancis salah satunya dengan memfokuskan pada bidang maritim. Menurutnya, Indonesia-Prancis adalah dua negara yang memiliki wilayah maritim luas dan memiliki kerja sama ilmiah yang sudah berjalan lama di bidang tersebut.
“Kami sudah bekerja sama di bidang ini, dan dengan adanya dukungan Uni Eropa, pengembangan proyek-proyek baru terkait pengelolaan ilmiah sumber daya laut merupakan prioritas utama Prancis,” ungkap Penone dalam acara penandatanganan perjanjian Uni Eropa dan Badan Pembangunan Prancis (AFD) di Rumah Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Rabu (26/3/2025).
Penone menilai RI-Prancis juga bisa bekerja sama di forum multilateral, seperti KTT UNOC3, dan pengelolaan sumber daya maritim secara kolektif. Ke depannya, Prancis berencana menyelenggarakan Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOC3) ke-3 di Nice, Prancis, pada 9-13 Juni 2025.
AFD telah meneken dua perjanjian hibah senilai 7 juta Euro atau kurang lebih bernilai sekitar Rp121,5 miliar dari Uni Eropa untuk mendukung adanya program kerja sama “Pengelolaan Laut Berbasis dan Berkelanjutan” dengan Indonesia. Proyek keamanan maritim baru ini bertujuan untuk memastikan perdamaian dan keamanan laut di kawasan Indo-Pasifik.
Dana hibah itu akan dibagi ke dalam dua proyek pengembangan. Proyek pertama senilai 3,55 juta euro atau sekitar Rp61 miliar dapat mendanai kegiatan yang dipimpin oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. Sementara 3,45 euro atau sekitar Rp59,8 miliar sisanya akan digunakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Belum lagi Prancis dan Uni Eropa sudah menyiapkan 187,6 juga euro atau sekitar Rp3,25 triliun untuk proyek 12 pelabuhan perikanan ramah lingkungan di delapan negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan proyek itu dinamai Global Ports Safety.
“Tujuannya adalah untuk melengkapi pelabuhan-pelabuhan ini dengan kemampuan baru, kapasitas baru untuk menangani masalah keamanan dan kapasitas untuk menangani masalah keberlanjutan dan ketahanan,” ujar Barrot dalam sambutan di acara tersebut.













