Protes Anti-Erdogan Terus Terjadi, 8 Wartawan Turki Ditangkap

Demo besar terjadi di Istanbul setelah Wali Kota Imamoglu ditangkap aparat Turki. Erdogan diduga berperan di kasus itu. Foto: Istimewa
FAKTA.COM, Jakarta - Protes besar di Turki masih berlangsung sejak Wali Kota Istanbul, Ekrem İmamoğlu, ditangkap aparat penegak hukum sejak pekan lalu. Bahkan, kini aparat kepolisian Turki menindak tegas orang-orang yang melakukan demo dan dituduh menjadi provokator.
Bukan cuma itu, aparat juga telah menangkap beberapa wartawan di rumah mereka, pada Senin (24/3/2025). Sedikitnya, delapan wartawan dan jurnalis foto ditangkap aparat, kata Serikat pekerja Disk-Basin-Is.
"Ini serangan terhadap kebebasan pers dan hak rakyat untuk mengetahui kebenaran. Anda tidak dapat menyembunyikan kebenaran dengan membungkam wartawan!" tulis serikat pekerja di platform media sosial X, Senin.
Serikat pekerja Disk-Basin-Is pun meminta aparat segera membebaskan para wartawan yang ditangkap. Namun, hingga saat ini tidak ada komentar langsung dari pihak berwenang Turki mengenai penahanan tersebut.
Sejak menjadi presiden pada tahun 2014, Erdoğan secara konsisten menargetkan wartawan.
LSM Reporters Without Borders mengatakan tahun lalu bahwa selama satu dekade kekuasaan Erdoğan, 77 wartawan telah dihukum karena "menghina presiden", sementara lima orang telah dibunuh. Setidaknya 85 persen media nasional dikendalikan oleh pemerintah, kata LSM tersebut.
Ribuan warga Turki berunjuk rasa di Istanbul pada 19 Maret 2025, memprotes penangkapan Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu, yang merupakan rival utama Presiden Recep Tayyip Erdogan. Pemerintah menuduh Imamoglu dan beberapa tokoh oposisi terlibat korupsi serta mendukung Partai… pic.twitter.com/qsXlSkHXkc
— Faktacom (@Faktacom_) March 20, 2025
Untuk diketahui, İmamoğlu ditangkap pada Rabu (19/3/2025). İmamoğlu dipenjara karena dicurigai menjalankan organisasi kriminal, menerima suap, pemerasan, merekam data pribadi secara ilegal, dan mengatur tender.
Pada Minggu, pengadilan Turki secara resmi menahan İmamoğlu dan memerintahkannya dipenjara sambil menunggu persidangan atas tuduhan korupsi. Kementerian Dalam Negeri mengumumkan bahwa İmamoğlu telah diskors dari tugasnya sebagai 'tindakan sementara.'
Penahanan İmamoğlu secara luas dipandang sebagai langkah politik untuk menyingkirkan penantang utama Erdoğan dari pemilihan presiden berikutnya pada tahun 2028. Penahanannya memicu gelombang demonstrasi jalanan terbesar di Turki dalam lebih dari satu dekade, yang memperdalam kekhawatiran atas demokrasi dan supremasi hukum.
Pejabat pemerintah dengan tegas menolak tuduhan bahwa penangkapan İmamoğlu bermotif politik. Pemerintahan Erdogan menegaskan bahwa pengadilan Turki beroperasi secara independen.
Dalam pemilihan pendahuluan pada Minggu, İmamoğlu didukung sebagai kandidat presiden dari Partai Rakyat Republik (CHP). Ia didukung oleh 1,7 juta anggota CHP dan 13 juta anggota non-partai.
İmamoğlu terpilih sebagai wali kota Istanbul pada bulan Maret 2019, yang merupakan pukulan telak bagi Partai Keadilan dan Pembangunan Erdogan, yang telah menguasai kota tersebut selama seperempat abad. (Euronews/Anadolu)













