1.000 Orang Wafat, Suriah Perang Saudara Lagi?

Foto: Kantor Berita Suriah, SANA.
FAKTA.COM, Jakarta - Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, membentuk komite untuk menyelidiki gelombang kekerasan akibat bentrok yang terjadi antara pasukan keamanan pemerintahannya dengan kelompok Alawi atau Alawite, loyalis Presiden terguling Bashar al-Assad.
Tidak jelas kelompok mana yang lebih dulu melakukan serangan, namun pemantau perang dari beberapa organisasi dunia memperkirakan bentrokan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.000 orang selama empat hari belakangan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Kolonel Hassan Abdel-Ghani mengatakan pada hari Minggu bahwa pasukan keamanan telah memulihkan kendali atas wilayah Latakia, sebelah barat Suriah yang dikuasai Alawi.
Meski pihak berwenang menyerukan diakhirinya hasutan sektarian, bentrokan terus terjadi dan menjadi lebih mematikan. Banyak warga sipil tewas akibat bentrokan itu.
Sebagian besar korban tewas merupakan anggota komunitas Alawi, yang tinggal di provinsi pesisir negara itu, termasuk di kota Latakia dan Tartous.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan 745 warga sipil tewas, sebagian besar dalam penembakan. Selain itu, korban tewas juga berasal dari anggota pasukan keamanan pemerintah sebanyak 125 orang dan 148 militan dengan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Assad.
Peristiwa ini seperti membuka lagi luka lama perang saudara di Suriah, 13 tahun lalu. Bentrok kali ini merupakan kekerasan terburuk yang pernah terjadi di Suriah sejak Desember 2024, ketika pemberontak yang dipimpin oleh kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham, atau HTS, menggulingkan Assad.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia melaporkan puluhan pembunuhan balas dendam yang dilakukan oleh militan Sunni menargetkan sekte Islam minoritas, terlepas dari apakah mereka terlibat dalam pemberontakan tersebut.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, ikut berkomentar terkait bentrok di Suriah. Ia pun mendesak agar otoritas Suriah meminta pertanggungjawaban para pelaku pembantaian terhadap kelompok minoritas.
Sekaligus, Rubio menegaskan bahwa AS berpihak pada minoritas agama dan etnis di Suriah, termasuk komunitas Kristen, Druze, Alawite, dan Kurdi.
Presiden Sementara Ahmad Al-Sharaa, mantan pemimpin HTS, telah berjanji bahwa negara itu akan beralih ke sistem yang mewakili berbagai kelompok agama dan etnis di Suriah. Al-Sharaa juga berjanji akan menggelar pemilihan umum yang adil.
Al-Sharaa mengimbau warga Suriah untuk tidak menyakiti warga sipil lainnya dan menganiaya tahanan. Ia juga meminta komunitas internasional untuk tidak memperkeruh suasana Suriah.
Al-Sharaa menuga insiden demi insiden memanas di Suriah merupakan upaya Assad dan pihak asing yang mendukungnya untuk menghancurkan legitimasi HTS. Karenanya, Al-Sharaa membentuk sebuah komite yang sebagian besar terdiri dari hakim untuk menyelidiki kekerasan tersebut. (Aljazeera/Euronews/SANA)













