Xi Jinping Kumpulkan Pemimpin Perusahaan China, Ekonomi Lesu?

Presiden RRT, Xi Jinping, rapat bersama perusahaan swasta di Beijing, Senin (17/2/2025). Foto: Xinhua via CGTN
FAKTA.COM, Jakarta - Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Xi Jinping, mengumpulkan sejumlah pemimpin perusahaan-perusahaan besar Tiongkok di Beijing, Senin (17/2/2025).
Para peserta pertemuan itu antara lain; Ren Zhengfei dari Huawei (perusahaan telekomunikasi), Wang Chuanfu dari BYD (kendaraan listrik), Wang Xingxing dari Unitree Robotics (perusahaan robotika), Lei Jun dari Xiaomi (perangkat elektronik), Liu Yonghao dari New Hope (teknologi pertanian), Yu Renrong dari Will Semiconductor (bidang perangkat semikonduktor).
Media pemerintah China juga menyebutkan hadir juga pendiri Alibaba (perusahaan teknologi dan e-commerce) dan perwakilan dari DeepSeek (model AI).
Pertemuan Xi dengan para pemimpin perusahaan swasta China terakhir kali dilakukan pada 2018. Saat itu, Presiden Xi menjanjikan pemotongan pajak dan akses ke dukungan finansial.
Hingga September 2024, China memiliki lebih dari 55 juta perusahaan swasta terdaftar, yang mencakup 92,3 persen dari semua bisnis. Mereka menyumbang lebih dari separuh pendapatan pajak negara, lebih dari 60 persen PDB, dan lebih dari 80 persen lapangan kerja perkotaan.
Lalu, apa tujuan Xi Jinping mengumpulkan para pemimpin perusahaan Negeri Panda kali ini?
1. Ekonomi Lesu?
Sejumlah analis barat menyebut upaya Xi mengumpulkan para pemimpin perusahaan sebagai respons terhadap lesunya ekonomi China beberapa kuartal belakangan.
Negeri Tirai Bambu mengalami perlambatan ekonomi setelah dihantam krisis properti ditambah penurunan konsumsi domestik dan peningkatan angka pengangguran.
Dalam simposium itu Xi juga menyebut dalam beberapa tahun terakhir, beberapa perusahaan swasta merasakan tekanan dalam operasi dan pengembangan usaha.
"Beberapa kesulitan dan tantangan yang saat ini dihadapi oleh pengembangan ekonomi swasta, secara umum, muncul dalam proses reformasi dan pengembangan, serta transformasi dan peningkatan industry," kata Presiden China, seperti dikutip dari CGTN, Selasa (18/2/2025).
Namun, Xi mengklaim kesulitan dan tantangan tersebut hanya bersifat parsial dan sementara. Dalam jangka panjang, Xi yakin masalah-masalah di sektor swasta dapat diatasi.
2. Janji Permudah Produksi dan Pasar
Xi Jinping berjanji akan menghapus rintangan yang menghambat proses produksi dan menghadirkan kesempatan yang adil dalam persaingan pasar bagi sektor swasta. Selain itu, Xi juga berjanji menggenjot infrastruktur untuk memecahkan tingginya ongkos distribusi.
Terlebih, Xi mengklaim pasar China masih sangat besar dan potensial. Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar, pasar domestik dirasanya masih bisa membawa peluang baru bagi pengembangan perusahaan swasta yang lebih besar, seiring dengan reformasi dan keterbukaan ekonomi yang dikendalikan pemerintah China.
"Dalam perjalanan era baru, prospek pengembangan ekonomi swasta luas dan menjanjikan. Ini adalah waktu yang tepat bagi perusahaan swasta dan pengusaha untuk mengerahkan kemampuan mereka sepenuhnya," katanya.
@fakta_pangea Xiaomi SU7 mencetak rekor penjualan mobil listrik di Tiongkok sepanjang 2024, bahkan mengalahkan Tesla Model 3 selama 4 dari 9 bulan. Dengan harga lebih murah (Rp481 juta) namun fitur unggul, Xiaomi SU7 jadi alternatif menarik bagi konsumen. Persaingan bakal makin panas tahun ini dengan rencana peluncuran SUV YU7 dari Xiaomi! #Xiaomi #TeslaModel3 ♬ original sound - Fakta Pangea
3. Teknologi Harus Makin Canggih
Xi meminta perusahaan China untuk terus mengembangkan teknologinya agar semakin canggih dan efisien dalam konsumsi bahan bakar. Sebab, gara-gara itu, prospek perusahaan teknologi China juga makin besar.
Ia mencontohkan kinerja industri kecerdasan buatan (AI) seperti Deepseek hingga merek mobil listrik China seperti BYD yang mampu memenangkan hati pasar internasional.
"Musim semi ini, perusahaan swasta China dalam perjalanan baru bangkit menghadapi tantangan, bergerak menuju 'yang baru', dan menanjak menuju 'yang tinggi', menunjukkan ketahanan dan vitalitas mereka," ungkap Xi.
4. Harus Sesuai Sosialisme ala China
Dalam pertemuan tersebut, Xi mengatakan pengembangan ekonomi sektor swasta harus sesuai dengan sistem sosialisme khas China. Karena itu, prinsip-prinsip dasar dan kebijakan pemerintah harus ditegakkan perusahaan swasta.
"Prinsip-prinsip tersebut tidak dapat dan tidak akan diubah," kata Xi.
@fakta_pangea Tiongkok mengeksekusi mati Li Jianping, mantan sekretaris Partai Komunis di Hohhot, atas kasus korupsi senilai Rp6,7 triliun. Ini menjadi kasus korupsi individu terbesar dalam sejarah China. #Korupsi #Tiongkok #LiJianping #HukumanMati #AntiKorupsi ♬ original sound - Fakta Pangea
Xi menegaskan bahwa sosialisme ala China tidak yang diatur oleh hukum, dan tidak ada jenis kegiatan ilegal oleh perusahaan, terlepas dari bentuk kepemilikannya, yang dapat menghindari penyelidikan dan hukuman.
"Sistem sosialis dengan ciri khas China memiliki banyak keunggulan yang signifikan. Sistem ekonomi pasar sosialis dan sistem hukum sosialis dengan ciri khas Tiongkok terus ditingkatkan dan disempurnakan, yang akan memberikan jaminan yang lebih kuat bagi pengembangan ekonomi swasta," kata Xi. (CGTN/Xinhua/ANT)













