Oleh Fakta.com
31 Mei 2023 12:10 WIB
Menakar Ganjar menjadi 'Widodo' atau 'Soekarno'
DISCLAIMER: Opini ini telah disunting tanpa mengubah makna yang dimaksud penulis. Hasil suntingan telah diketahui dan disetujui penulis untuk ditayangkan. Kolom Opini adalah tulisan yang merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan Fakta.com.
Ganjar Pranowo (Pemprov Jateng)

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Seokarno Putri resmi menunjuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi calon presiden di 2024. Hal itu seakan penanda jika Megawati bukan lah seorang yang memaksakan garis keturunan Soekarno untuk berkuasa, padahal ia bisa melakukannya.

Di 2014, sejatinya Mega masih sangat mampu untuk menjadi kontestan pemilihan presiden, namun ia menunjuk Joko Widodo (yang saat ini menjadi presiden). Sempat muncul dorongan kader banteng mengusung sang putri mahkota Puan Maharani (yang saat ini menjadi ketua DPR RI), namun Megawati adalah seorang yang realistis dan tidak mungkin tidak berhitung. Dalam hal ini Mega memberikan ruang yang cukup luas bagi kader internal untuk berdinamika.

PDI-P hanya membuka ruang calon presiden 2024 keluar dari mulut Mega, ya hanya Megawati yang berhak.

Lalu bagaimana dengan Presiden Joko Widodo? Di mana ia akan melabuhkan dukungan?

Kabar yang beredar alias rumor politik, ada sedikit kekesalan Jokowi pada momen pengumuman Ganjar, ia sedikit sekali dilibatkan.

Jika Jokowi seorang kader banteng, sudah tentu ia harus tegak lurus dengan ketetapan Megawati. Namun, bagaimana jika Jokowi dari sudut pandang sebagai Presiden? Apakah juga mendukung "Rambut Putih"? Jawabannya, bisa iya. bisa tidak.

Kabar yang beredar alias rumor politik, ada sedikit kekesalan Jokowi pada momen pengumuman Ganjar, ia sedikit sekali dilibatkan. Hal itu sangat lumrah mengingat 100% kuasa ada di tangan 'ibu'. Tapi, Jokowi adalah Presiden, dia adalah Presiden, orang nomor satu di negeri ini, yang juga kader PDI-P, ibaratnya "ya mosok ndak dilibatkan".

Jika menakar dalam garis waktu yang panjang, Jokowi adalah anak baru ketimbang Megawati di kancah politik negeri. Namun, tetap, Jokowi saat ini Presiden. Apakah kekesalan Jokowi akan berlanjut? dan membenarkan gosip politik akan munculnya Prabowo Subianto yang berganti nama menjadi 'Prabowo Widodo'?

Bisa saja, tapi kejauhan. Hanya karena sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka menerima Prabowo di Solo, lalu itu menandakan perpindahan dukungan Jokowi atas titah PDI-P agar semua kader mendukung Ganjar? Dalam, politik itu tidak sulit, tapi bisa jadi tidak mudah. Namun, itu jadi terbantahkan, saat PDI-P menunjuk Gibran sebagai juru kampanye pemenangan Ganjar di 2024. Maka, prediksi itu terbantahkan.

Di kalangan wartawan, muncul istilah, jika ingin mengetahui apa isi hati Jokowi, maka itu bisa tergambar dari perilaku Gibran. Maka, penunjukan Gibran menjadi juru kampanye bisa jadi satu jawaban yang menguatkan, di mana posisi Jokowi. Meskipun, ada sisa-sisa kesal Jokowi terhadap Ibu.

Diakui atau tidak, dalam opini saya, hanya ada dua tokoh di luar presiden yang memiliki pengaruh dan dampak signifikan secara politik dalam tataran tingkat tinggi, khususnya dalam menghadapi Pilpres 2024; Megawati dan Surya Paloh. Megawati mampu mewakili partai dalam tataran yang mandiri secara politik, yang membuat banyak partai mendekat (atau ingin mendekat tapi gengsi), sedangkan Surya Paloh mampu membangun narasi untuk meyakinkan parta lain memberikan perlawanan sepadan di 2024. Terkait Surya Paloh, saya akan membahasnya di tulisan terpisah.

Secara kasat mata, Megawati berperan sebagai seorang ibu yang jeli melihat Jokowi, tidak akan seorang anak merasa kesal selamanya, yang mungkin sang 'ibu' tengah memberikan pelajaran politik. Dan Jokowi, berperan sebagai anak dengan ego yang masih meluap untuk tetap berada dalam arena dengan sisa waktu tak panjang, sebagai seorang kapten, yang perlu diakomodasi, lantaran peran yang sangat besar juga strategis.

Sosok kuat seorang Ganjar adalah kredit tersendiri bagi PDI-P. Terlebih tambahan modal besar 10 tahun Jokowi sebagai presiden. Dan Megawati adalah Ketua Umum partai yang mampu membawa PDI-P tetap berada di bawah kendalinya, relatif adem ayem, tanpa sengketa dan saling gugat layaknya mayoritas partai lain yang berada di parlemen pasca reformasi.

Dinamika apa nama belakang Ganjar saat 2024 besar kemungkinan menjadi "Ganjar Soekarno Widodo", gabungan nama tersebut memberikan peluang terbesar si Rambut Putih menjadi suksesi Jokowi.

Bagikan:

Komentar (0)

Login to comment on this news
Data
Pointer
Interaktif
Program
Jobs