Sidang Praperadilan, Polisi: Pegi Cenderung Berbohong dan Manipulatif

Oleh Gin gin Tigin Ginulur - fakta.com
02 Juli 2024 16:35 WIB
Tim hukum dari Polda Jabar saat sidang praperadilan Pegi Setiawan. (Foto: ANTARA/Rubby Jovan)

FAKTA.COM, Jakarta - Tim hukum Polda Jabar mengungkap hasil pemeriksaan tes psikologis forensik tersangka pembunuhan Vina Cirebon, Pegi Setiawan,  dalam persidangan praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Selasa (2/7/2024).

Salah seorang tim hukum Polda Jabar yang membacakan jawaban menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut.

Diketahui Pegi Setiawan memiliki kecenderungan berbohong dan bersikap manipulatif saat dilakukan tes oleh penyidik Polda Jabar.

Kejati Kembalikan Berkas Perkara Pegi Setiawan ke Polda Jabar

"Selama pemeriksaan saudara Pegi Setiawan kerap menggaruk kepala, kontak mata kurang terjaga atau cenderung menghindari kontak mata dan cenderung gelisah," kata salah seorang anggota tim hukum Polda Jabar yang dipimpin Kabidkum Polda Jabar Kombes Pol Nurhadi Handayani.

Dia menjelaskan, Pegi Setiawan secara umum memiliki kecenderungan berbohong dan manipulatif. Sebab, kata dia, terdapat perbedaan keterangan saat pemeriksaan terhadap Pegi dan ayahnya Rudi Irawan terkait peristiwa pembunuhan Vina.

"Bahwa dalam diri Pegi Setiawan ada sikap kecenderungan sikap berbohong atau menutupi yang sebenarnya dan manipulatif dan ada perbedaan cerita antara Pegi dan ayahnya saat ditanyakan peristiwa yang sama," kata dia.

Termohon tak Hadir, Sidang Praperadilan Pegi Setiawan Ditunda

Dia menambahkan, penyidik dari Polda Jabar membutuhkan waktu cukup lama saat memeriksa dan tersangka sering menjawab tidak tahu serta terbata-bata.

"Tidak mengalami disorientasi waktu dan ruang memori, kesulitan menyampaikan informasi detail dan beberapa informasi tidak konsisten terlihat gelisah dan khawatir. Tidak asa gangguan persepsi. Tidak ada gangguan uji pikir," kata dia.

Menurutnya, tujuan dilakukannya tes psikologi forensik terhadap Pegi yaitu untuk memperoleh gambaran tentang kondisi psikologis tersangka yang meliputi intelejensi, kepribadian, status mental, serta mengevaluasi kredibilitas tersangka.

"Tujuan kedua, mengevaluasi kredibilitas keterangan tersangka terkait peristiwa yang menjadi dasar perkara dan mendapatkan gambaran mengenai konteks kehidupan psikososial tersangka," katanya. (ANT)

Bagikan:

Data

Komentar (0)

Login to comment on this news

Updates

Popular

Data
Pointer
Interaktif
Program
Jobs
//