Sempat Hattrick Lampaui Target, Penerimaan Pajak Tahun Ini Banyak 'PR'

Oleh Muhammad Azka Syafrizal - fakta.com
04 Juli 2024 19:15 WIB
Direktur Program INDEF, Eisha M. Rachbini dalam Webinar Publik INDEF, Warisan Utang ke Pemerintahan Mendatang. (Tangkapan layar Youtube INDEF)

FAKTA.COM, Jakarta - Selama tiga tahun terakhir, Indonesia cetak hattrick  penerimaan pajak melampaui target. Secara beruntun, realisasi penerimaan pajak menyentuh angka 104%, 115,6%, dan 102,8%.

Namun, Institute for Development Economics and Finance (INDEF) mengungkap pencapaian tersebut diperoleh karena dibantu oleh windfall tax pada kenaikan harga komoditas.

Sebelum mendapatkan berkah harga peningkatan harga komoditas, realisasi pajak Indonesia selama beberapa tahun terakhir belum mencapai target. Tahun ini, harga komoditas mulai menurun, realisasi pajak pun mengalami perlambatan.

Per Mei 2024, realisasi penerimaan pajak Indonesia baru mencapai 38,23%.

“Ada kecenderungan bahwa realisasi penerimaan pajak dari tahun 2022 terlihat melambat,” ujar Direktur Program INDEF, Eisha M. Rachbini dalam Webinar Publik INDEF, Warisan Utang ke Pemerintahan Mendatang, Jakarta (4/7/2024).

Lebih Bijak Mencapai Target Penerimaan Pajak

Eisha mengungkapkan bahwa peningkatan harga komoditas selama masa pandemi mendongkrak realisasi penerimaan pajak hingga angkanya melebihi target yang ditetapkan. Namun, ketika harga komoditas penurun, kinerja penerimaan pajak melambat signifikan.

Perlambatan tersebut terlihat jelas secara sektoral pada data Januari-April 2024, sektor industri perdagangan dan pertambangan mengalami penurunan realisasi pajak year on year (yoy) signifikan sebesar 13,77% dan 63,79%. Ini berarti, saat ini dengan harga komoditas yang menurun, penerimaan pajak cenderung melambat.

Baru Tercapai Rp760,38 Triliun, Penerimaan Pajak Masih Melambat

Menanggapi hal tersebut, Eisha mengatakan penerimaan pajak masih perlu dioptimalkan kembali, apalagi jika melihat nilai rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang juga mengalami pola penurunan.

“Berbicara terkait dengan pendapatan, masih banyak yang harus dijadikan PR,” ungkap Eisha.

Lebih lanjut, Eisha mengungkapkan perlunya perhatian kepada sektor informal yang mendominasi tenaga kerja di Indonesia untuk mengoptimalkan penerimaan pajak.

Bagikan:

Data

Komentar (0)

Login to comment on this news

Updates

Popular

Data
Pointer
Interaktif
Program
Jobs
//