Kata Peneliti INDEF, Kelas Menengah Bawah Butuh Insentif untuk Tambah Simpanan

Ilustrasi. (Dokumen Pixabay)

FAKTA.COM, Jakarta - Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan menyatakan bahwa pemerintah perlu memberikan insentif untuk meningkatkan nilai simpanan nasabah kelas menengah ke bawah.

"Nasabah kelas menengah ke bawah yang (nilai simpanannya) satu miliar ke bawah gitu ya, nah ini yang tidak dirawat, padahal ini yang menjadi penopang ekonomi Indonesia dari sisi konsumsinya," kata Abdul, Selasa (25/6/2024).

Ia mengatakan bahwa pertumbuhan nilai simpanan nasabah kelas menengah ke bawah terus menurun sejak Januari hingga April 2024.

Pertumbuhan simpanan nasabah yang bernilai antara Rp100 juta hingga Rp200 juta hanya mencapai 2,96% pada April 2024, jauh di bawah rata-rata pertumbuhan simpanan nasabah dari semua kelas yang mencapai 7,58% pada bulan tersebut.

Simulasi Iuran Simpanan Tapera, Apa Iya Bisa Beli Rumah?

Bahkan angka tersebut juga lebih rendah daripada pertumbuhan nilai simpanan nasabah kelas bawah, yakni yang bernilai di bawah Rp100 juta, yang mencapai 4,77% pada April 2024.

"Pertumbuhan kelas bawah memang masih tumbuh 4,77% karena ada BLT (bantuan langsung tunai)," ucap Abdul.

Selain itu, lanjutnya, pertumbuhan simpanan nasabah kelas menengah atas yang bernilai antara Rp2 miliar hingga Rp5 miliar serta nasabah kelas atas yang bernilai melebihi Rp5 miliar juga tercatat naik pada April 2024 dibanding bulan sebelumnya.

Pada bulan tersebut, kedua kelas nasabah mencatatkan pertumbuhan nilai simpanan masing-masing sebesar 6,37% dan 10,2%.

Simpanan Perbankan Menumpuk di Pulau Jawa, Rp4.499 T Ada di Jakarta

Menurutnya, hal tersebut dikarenakan masyarakat kelas atas tersebut juga menikmati berbagai insentif, salah satunya insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) ditanggung pemerintah (DTP).

"Nah kelas menengah ini tidak dikasih apa-apa nih, makanya pertumbuhan tabungan mereka itu hanya 2,96%," ujar Abdul.

Padahal, menurutnya, masyarakat kelas menengah merupakan kelompok yang rentan turun kelas ketika terjadi guncangan ekonomi, terutama dari kenaikan harga bahan pokok.

Jika hal tersebut terjadi, ia mengatakan bahwa konsumsi kelas menengah bisa jadi menurun dan tidak dapat lagi berkontribusi untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kalau mereka tidak konsumsi, berarti tidak akan tumbuh ekonominya," tutur Abdul. (ANT)

Bagikan:

Data

Komentar (0)

Login to comment on this news

Updates

Popular

Place your ads here
Data
Pointer
Interaktif
Program
Jobs
//