Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In

Sejarah Hari Raya Ketupat, Menyempurnakan Ramadan di Awal Syawal

Gerebeg ketupat di Kabupaten Magelang dibanjiri masyarakat. ANTARA/HO - Pemerintah Kabupaten Magelang

Gerebeg ketupat di Kabupaten Magelang dibanjiri masyarakat. ANTARA/HO - Pemerintah Kabupaten Magelang

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Hari Raya Ketupat merupakan salah satu tradisi unik yang berkembang di Indonesia. Hari Raya Ketupat ternyata sudah ada sejak abad ke-15.

Sudah lumrah di berbagai daerah di sejumlah daerah di Nusantara, warga mengangkut gunungan besar atau memasak makanan khas seperti lemang untuk merayakat Hari Raya Ketupat dengan berbagai macam sebutan seperti Gerebeg Ketupat, Gerebeg Syawal, maupun Lebaran Ketupat.

Tradisi ini erat kaitannya dengan penyebaran Islam di Nusantara. Dipopulerkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo (Wali Sembilan) yang berperan besar dalam dakwah Islam di tanah Jawa.

Dikutip dari artikel Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Masyarakat Jawa yang terbit di Jurnal Sociopolitico, Sunan Kalijaga disebut memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal untuk mempermudah penerimaan masyarakat.

Baca Juga: Mengapa Rasa Masakan di Jawa Tengah dan Yogya Dominan Manis?

Dia memperkenalkan ketupat nasi yang dibungkus daun janur muda sebagai simbol Idulfitri dan penyempurnaan ibadah puasa. Tradisi ini semakin dikenal luas pada masa pemerintahan Kerajaan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah.

Daun janur, atau daun muda dari pohon kelapa, yang digunakan untuk membungkus ketupat memiliki nilai simbolik. Janur dimanfaatkan Sunan Kalijaga untuk menjembatani nilai-nilai Islam dan kearifan lokal. Sebab, di kalangan masyarakat Jawa, janur kerap digunakan dalam berbagai acara adat sebelum datangnya Islam.

Baca Juga: Sejarah Sidang Isbat di Indonesia, Penentu Awal Puasa dan Lebaran

Menurut sejarawan Agus Sunyoto, tradisi Lebaran Ketupat berasal dari pemahaman Sunan Kalijaga terhadap hadis Nabi Muhammad SAW mengenai puasa sunah enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan.

Dalam Islam, mereka yang melakukannya disebut kaffah atau sempurna. Istilah ini kemudian berkembang menjadi “kupat” atau “ketupat,” yang dimaknai sebagai simbol penyempurnaan ibadah.

Makna Filosofis Ketupat

Dalam budaya Jawa, ketupat memiliki makna mendalam. Bentuk fisik ketupat yang bersegi empat melambangkan hati manusia.

Saat ketupat dibelah, terlihat isinya yang putih bersih melambangkan hati yang telah bersinar terang. Terangkanya hati dilingkupi oleh janur atau “ja’a nur” (telah datang cahaya).

Kata “ketupat” atau “kupat” juga merupakan akronim dari ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan dan laku papat yang bermakna empat tindakan.

Ngaku lepat diwujudkan dalam tradisi sungkeman, yaitu anak meminta maaf kepada orang tua. Ini adalah bentuk penghormatan dan permohonan restu dari yang muda kepada yang lebih tua.

Baca Juga: Sejarah Dwifungsi ABRI, Kekuatan Politik yang Dipersenjatai

Sementara laku papat dijabarkan Sunan Kalijaga dalam empat istilah, yakni:

  1. Lebaran yang dimaknai usainya puasa Ramadan dan datangnya Hari Kemenangan;
  2. Luberan yang dimaknai ajaran untuk berbagi rezeki dan membayar zakat;
  3. Leburan yang dimaknai momen saling memaafkan untuk menghapus dosa antarsesama;
  4. Laburan yang dimaknai sebagai simbol penyucian diri seperti warna putih pada kapur.  

Selain ketupat, lepet, atau leupeut dalam bahasa Sunda, makanan lengket dari ketan yang dibungkus daun juga punya makna tersendiri dalam tradisi keislaman di Jawa. Lepet melambangkan eratnya persaudaraan antarmanusia setelah saling memaafkan.

Baca Juga: Perpecahan Umat Islam, Prabowo: Kapan Semua Ini Berakhir?

Kata “lepet” berasal dari ungkapan silep kang rapet yang artinya “mari kita kubur dan rapatkan kesalahan yang telah dimaafkan agar tak terulang kembali.”

Tradisi Lebaran Ketupat merupakan bukti para wali menyebarkan Islam dengan lembut dan sarat makna. Sebagai warisan budaya yang penuh nilai, tradisi ini menjadi cerminan keislaman yang berpadu dengan kearifan lokal.

Tak heran, ungkapan "Mohon maaf lahir dan batin" yang lahir dari pemahaman luhur itu pun hingga kini tetap diucapkan masyarakat Indonesia saat Idulfitri. (Kiki Annisa Fadilah/dari berbagai sumber)

Bagikan:
Hari Raya KetupatGerebeg KetupatIslam di NusantaraSejarah Islam di IndonesiaSunan KalijagaWali Songo
Loading...
ADS

Trending

Update News

  1. Home
  2. memoar
  3. Sejarah Hari Raya Ketupat, Men...