Mengapa Rasa Masakan di Jawa Tengah dan Yogya Dominan Manis?

Kue lupis merupan salah satu kuliner di Jawa Tengah yang memiliki rasa manis yang dominan. (Foto: Wikipedia)
FAKTA.COM, Jakarta - Kuliner Nusantara terkenal beragam. Setiap daerah punya cita rasa yang khas dan menjadi karakteristik, sebut saja Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Kuliner dari Jawa Tengah dan Yogyakarta cenderung memiliki rasa manis yang dominan. Sebagai contoh, kue lupis disajikan dengan gula merah cair. Begitu juga gudeg yang menggunakan gula jawa sebagai bahan masakan.
Kalau menilik sejarah, ternyata cita rasa manis Jawa Tengah terpengaruh dari masa lampau.
Dilansir dari buku Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986) karya Haryanto Kunto, Selasa (24/02/2025), rasa manis dalam masakan Jawa berkaitan dengan pasokan gula di Jawa. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pabrik gula yang didirikan di sana.
Sementara itu, dalam Antropologi Kuliner Indonesia: Ekonomi, Politik, dan Sejarah di Belakang Bumbu Nusantara, dijelaskan bahwa banyak pabrik gula yang didirikan di Pulau Jawa tak lepas dari pengaruh kolonialisme Belanda di Indonesia.
Pada 1830, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes van den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Sartono Kartodirdjo dan kolega dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV menjelaskan bahwa sistem tanam paksa mewajibkan para petani di Pulau Jawa untuk menanam tanaman-tanaman perdagangan untuk diekspor ke pasaran dunia.
Ciri utama dari sistem tanam paksa yang diperkenalkan oleh van den Bosch adalah keharusan bagi rakyat di Jawa untuk membayar pajak mereka dalam bentuk barang, yaitu hasil-hasil pertanian mereka.
Kala itu, petani diharuskan menanam tanaman komoditas ekspor seperti tebu, teh, dan kopi.
Akibat kebijakan tersebut, 70% lahan pertanian di Jawa Tengah dan Jawa Timur berubah menjadi perkebunan tebu. Agar hasil produksi dapat terus meningkat, pemerintah kolonial juga mendirikan ratusan pabrik gula, yang paling terkenal adalah De Tjolomadoe.
Karena lahan pertanian disulap menjadi perkebunan tebu dan pabrik gula, stok beras pun menipis. Rakyat pun kesulitan mendapatkan pangan dan terpaksa memasak dengan air gula.
Keberadaan pabrik gula di Jawa Tengah dan Yogyakarta pun berpengaruh terhadap kehidupan bangsawan di dua daerah ini. Saat tanam paksa dihapus pada 1870, bisnis gula beralih ke pihak swasta Belanda, orang Tionghoa, dan raja-raja Jawa. Keberadaan pabrik gula pun turut berpengaruh kepada gaya hidup para bangsawan di Jawa.
(Penulis: Daffa Prasetia)













