Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. memoar
  3. Inikah Penyebab Perbedaan Rasa...

Inikah Penyebab Perbedaan Rasa Teh di Jawa?

Ilustrasi teh. (Foto: Freepik)

Ilustrasi teh. (Foto: Freepik)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Tradisi minum teh di Jawa berbeda-beda. Misalnya, masyarakat di Jawa Barat lebih suka minum teh tawar, sementara Jawa Tengah lebih suka teh panas, kental, dan manis.

Mengapa bisa demikian?

Murdijati dan kolega dalam buku nya Ragam Minuman Khas Indonesia (2024), dikutip Senin (24/2/2025), menerangkan bahwa warga Jawa Barat atau Priangan lebih suka minum teh tawar yang bening. Sementara itu warga Jawa Tengah, khususnya Jogja dan Solo, lebih menyukai teh yang panas, kental, dan manis.

Baca Juga: Sejarah 23 Februari 1923, Tokoh Pendiri Muhammadiyah Wafat

Air teh yang dikonsumsi oleh orang Sunda, sebutan untuk penduduk Priangan, biasanya tawar atau tanpa menambahkan gula ke dalamnya. Minuman itu biasa disebut citeh.

Yeti Haryati dan rekan-rekan dalam Makanan: Wujud, Variasi, dan Fungsinya Serta Cara Penyajiannya pada Orang Sunda di Jawa Barat (1993), menyebutkan bahwa teh manis atau cigula tak biasa diminum setelah makan, hanya untuk disajikan sewaktu-waktu saja. Cigula juga disebutkan tidak lazim jika disuguhkan bersamaan dengan hidangan manis.

Helen Saberi dalam Tea: A Global History (2010), menjelaskan bahwa kegemaran menikmati teh ala Sunda ada relasinya dengan sejarah penjajahan. Pada 1830, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel di Hindia Belanda. Kebijakan ini mengharuskan petani pribumi menanam komoditas ekspor tertentu di lahan mereka.

Di Jawa Barat, yang memiliki dataran tinggi dengan iklim sejuk, pemerintah kolonial memfokuskan penanaman teh dan kopi. Sementara itu, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang memiliki lahan datar dan subur, ditanami tebu untuk produksi gula.

Baca Juga: Sejarah 21 Februari 1949, Indonesia Kehilangan Sosok Tan Malaka

Akibat kebijakan tersebut, Jawa Barat menjadi pusat produksi teh dengan kualitas yang baik. Masyarakat setempat memiliki akses mudah terhadap teh berkualitas, sehingga mereka terbiasa mengonsumsi teh tanpa tambahan gula, menikmati rasa asli dari daun teh.

Sebaliknya, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, produksi gula melimpah karena banyaknya perkebunan tebu dan pabrik gula. Hal ini membuat gula menjadi bahan yang mudah diakses dan terjangkau. Masyarakat di daerah tersebut mengembangkan kebiasaan menambahkan gula ke dalam teh mereka dan menciptakan rasa yang lebih manis.

(Penulis: Daffa Prasetia)

Bagikan:
kulinertehperbedaan rasa teh di jawatradisi minum teh
ADS

Trending

Update News