Sejarah 23 Februari 1923, Tokoh Pendiri Muhammadiyah Wafat

Pendiri Muhammadiyah, K. H. Ahmad Dahlan. (Foto: Istimewa)
FAKTA.COM, Jakarta – Tepat pada hari ini, tepatnya 23 Februari 1923, Indonesia kehilangan sosok pejuang, guru, dan pemikir yang memiliki kontribusi besar dalam pendidikan, sosial, dan keagamaan. Dia adalah Kyai Haji Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah.
Dikutip dari buku K. H. Ahmad Dahlan si Penyantun (2018) karya Imron Mustofa, Minggu (23/2/2025), Ahmad Dahlan lahir dengan nama kecil Muhammad Darwis. Dia lahir dari keluarga yang religius dan terpandang masyarakat Kauman.
Ayahnya yang bernama Abu Bakar bin Sulaiman merupakan khatib besar Masjid Kesultanan Yogyakarta. Sementeranya ibunya, Siti Aminah adalah putri dari Haji Ibrahim bin Hasan, seorang penghulu yang mengabdi di Keraton Yogyakarta.
Ahmad Dahlan lahir pada 1 Agustus 1868 di Kauman, Yogyakarta, dan tumbuh di lingkungan pesantren yang kaya akan nilai-nilai keagamaan dan keilmuan. Sekadar informasi, Kampung Kauman, merupakan kampung yang religius.
Imron Mustofa menjelaskan Kampung Kauman berada di jantung kota Yogyakarta. Kampung ini merupakan tempat bagi sembilan khatib atau penghulu, yang ditugaskan pihak keraton untuk mengurus bidang keagamaan.
Tergerak untuk Mendorong Perubahan
Setelah menyelesaikan pendidikan agama di pesantren, dia melakukan perjalanan haji ke Mekkah pada usia 15 tahun.
Di sana, Ahmad Dahlan terinspirasi dengan pemikiran-pemikiran pembaharuan Islam yang mendorongnya untuk melakukan perubahan dalam masyarakat Muslim di Indonesia.
Abdul Mu’thi dan kolega dalam K. H. Ahmad Dahlan (1868 - 1923) menerangkan bahwa setelah menunaikan ibadah haji, Muhammad Darwis diberi nama Ahmad Dahlan. Pada 1888, dia pulang ke kampung halamannya dan menikahi Siti Walidah, sepupunya sendiri yang kelak dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan.
Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1888, dia mulai mengajar di Masjid Agung Yogyakarta. Ahmad Dahlan melihat adanya kebutuhan mendesak untuk memurnikan ajaran Islam dari praktik-praktik yang bercampur dengan tradisi lokal yang tidak sesuai dengan syariat.
Selain itu, Ahmad Dahlan sadar pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama dan pengetahuan umum.
Mendirikan Muhammadiyah
Pada 18 November 1912, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, sebuah organisasi yang berfokus pada pembaruan pendidikan dan sosial keagamaan. Melalui Muhammadiyah, dia mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan ilmu agama dan pengetahuan umum secara bersamaan, sebuah terobosan di masa itu.
Selain itu, Muhammadiyah juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti pendirian rumah sakit dan panti asuhan, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ahmad Dahlan juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam pendidikan dan masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan pendirian Aisyiyah pada 1917, sayap perempuan Muhammadiyah yang berfokus pada pemberdayaan dan pendidikan kaum wanita.
Setelah mendedikasikan hidupnya untuk pembaharuan Islam dan pendidikan, KH Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923 di Yogyakarta. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya melalui Keputusan Presiden No. 657 tahun 1961.
(Penulis: Daffa Prasetia)













