Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. memoar
  3. Sejarah 18 Februari 1930: Plan...

Sejarah 18 Februari 1930: Planet Pluto Ditemukan

Pluto ditemukan pada 18 Februari 1930. (foto: Wikipedia)

Pluto ditemukan pada 18 Februari 1930. (foto: Wikipedia)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Pluto ditemukan oleh seorang astronot Amerika Serikat, Clyde Tombaugh, pada 18 Februari 1930. Penemuan ini terjadi setelah Tombaugh membandingkan foto-foto langit yang diambil dalam beberapa hari berbeda menggunakan alat bernama blink comparator.

Dengan alat tersebut, Tombaugh berhasil menemukan Pluto yang saat itu dianggap sebagai planet kesembilan dalam Tata Surya.

Dikutip dari Science NASA, Selasa (18/2/2025), Pluto selebar 2.253,08 km serta diorbit lima bulan, yang terbesar adalah Charon. Benda langit itu terletak di Sabuk Kuiper, yaitu wilayah di Tata Surya yang penuh dengan benda langit kecil dan es.

Jarak Pluto dengan Matahari mencapai 3,6 miliar mil dari Matahari. Atmosfernya pun tipis serta sebagian besar terdiri atas nitrogen, metana, dan karbon monoksida.

Baca Juga: Ilmuwan AS Klaim Ada 'Kubangan' Air di Bawah Permukaan Planet Mars

Rata-rata suhu Pluto mencapai minus -232 derajat Celsius dan membuatnya terlalu dingin bagi kehidupan.

Perubahan Status Pluto

Pada 2006, statusnya berubah. Menurut keputusan International Astronomical Union (IAU), Pluto tidak lagi memenuhi syarat sebagai planet. Perubahan ini terjadi karena Pluto belum mampu membersihkan orbitnya dari benda langit lain di sekitarnya.

Syarat ini menjadi salah satu kriteria utama untuk sebuah benda langit disebut sebagai planet. Akibatnya, Pluto kini dikategorikan sebagai planet kerdil.

Mengapa Pluto Tak Lagi Disebut Planet?

Baca Juga: Fenomena Langit Enam Planet Berjajar Siap Hiasi Langit

Dikutip dari Universe Magazine, Selasa (18/2/2025), sejak awal penemuannya, Pluto memang berbeda dengan planet lain di Tata Surya. Orbitnya tidak melingkar sempurna dan memiliki kemiringan yang lebih besar dibandingkan planet lainnya.

Selain itu, ukurannya jauh lebih kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan Bulan.

Setelah penemuan bulan terbesarnya, Charon, pada 1976, ilmuwan akhirnya bisa mengukur ukuran dan massa Pluto dengan lebih akurat. Ternyata, massa Pluto 450 kali lebih kecil dari Bumi.

Diketahui juga bahwa satu-satunya wahana antariksa yang pernah mengunjungi Pluto adalah Horizons milik NASA. Wahana itu melewati Pluto pada 2015 dan mengirimkan banyak gambar serta data penting tentang planet kerdil ini.

(Penulis: Wafiq Azizah)

Bagikan:
tata suryaplutosejarah 18 februarisejarah pluto
ADS

Update News

Trending