Sejarah Sidang Isbat di Indonesia, Penentu Awal Puasa dan Lebaran

Bagaimana sejarah sidang Isbat di Indonesia? (foto: Kementerian Agama)
FAKTA.COM, Jakarta – Sejarah Sidang Isbat di Indonesia sudah berlangsung sejak lama. Sidang ini menentukan awal Ramadan dan Idulfitri di Indonesia.
Dikutip dari laman Kementerian Agama, Selasa (18/2/2025), sejak Kementerian Agama berdiri pada 1946, pemerintah telah memiliki kewenangan menetapkan hari raya yang terkait dengan peribadatan sebagai hari libur nasional. Regulasi awal mengenai penetapan hari raya tertuang dalam Penetapan Pemerintah Tahun 1946 Nomor 2/Um.
Aturan ini menyatakan bahwa hari raya harus ditetapkan oleh Menteri Agama setelah mendengar Badan Pekerja Komite Nasional Pusat. Pada masa itu, hari raya yang diakui terdiri dari Hari Raya Umum, Hari Raya Islam, Hari Raya Kristen, dan Hari Raya Tionghoa.
Awal Mula Sidang Isbat
Sidang Isbat pertama kali diadakan sekitar tahun 1962 sebagai forum resmi untuk menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri. Dalam sidang ini, para ulama, ahli falak, serta perwakilan organisasi Islam menyampaikan pendapat sebelum keputusan akhir diumumkan kepada masyarakat. Sidang Isbat awal Ramadan biasanya dilaksanakan setiap tanggal 29 Sya’ban.
Pada periode Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri, lahirlah Keputusan Menteri Agama Nomor 47 Tahun 1963 yang memperjelas tugas Kementerian Agama dalam menetapkan tanggal hari raya. Sejak saat itu, Sidang Isbat menjadi prosedur resmi dalam menentukan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah.
Pembentukan Badan Hisab dan Rukyat
Pada tahun 1972, Kementerian Agama membentuk Badan Hisab dan Rukyat (BHR) melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 76 Tahun 1972. BHR bertugas melakukan kajian ilmiah terkait perhitungan kalender Islam dan pemantauan hilal untuk menentukan awal bulan Hijriyah. Keputusan ini bertujuan untuk menyatukan metode penentuan awal bulan Islam dan meminimalkan perbedaan di masyarakat.
Menteri Agama periode 1971-1978, Prof. H.A. Mukti Ali, menegaskan bahwa BHR memiliki tiga tugas utama:
- Menetapkan hari-hari besar Islam dan hari libur nasional.
- Menyatukan metode penentuan awal bulan Islam.
- Menjaga persatuan umat Islam dalam menyikapi perbedaan metode hisab dan rukyat.
Metode Hisab dan Rukyat di Indonesia
Hingga saat ini, Indonesia menggunakan dua metode utama dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri, yaitu hisab (perhitungan astronomi berdasarkan posisi bulan) dan rukyat (pengamatan langsung terhadap hilal).
(Penulis: Wafiq Azizah)













