Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. humaniora
  3. Hari Malaria Sedunia, Papua Ma...

Hari Malaria Sedunia, Papua Masih Jadi Lumbung Kasus

Ilustrasi poster Hari Malaria Sedunia

Ilustrasi poster Hari Malaria Sedunia

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Papua masih menjadi penyumbang total kasus malaria secara nasional. Tahun 2024, setidaknya masih ditemukan 443 ribu kasus malaria, 93 persen kasus terjadi di pulau Papua.

Angka ini masih jauh dari perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memperkirakan masih ada sekitar 1,1 juta kasus malaria terjadi di Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan, angka 443 kasus ditemukan baru dari total 4 juta pemeriksaan.

Untuk itu, pada tahun 2025, Kemenkes menargetkan pemeriksaan kasus malaria hingga 8 juta guna mendeteksi kasus lebih luas dan cepat.

Baca Juga: Upaya Selama 100 tahun, Mesir Akhirnya Bebas Malaria

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Ina Agustina Isturini, menekankan bahwa upaya memberantas malaria tidak bisa dilakukan sendiri oleh pihaknya.

“Penyelesaian masalah malaria itu kompleks, tidak bisa dilakukan orang kesehatan saja. Kita harus memadukan penanganan manusia, vektor, dan lingkungannya,” kata Ina dalam Temu Media Hari Malaria Sedunia yang digelar secara daring, Jumat (25/4/2025).

Dia juga menambahkan bahwa kontribusi masyarakat dan pihak swasta sangat penting. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Butuh keterlibatan komunitas, swasta, semua pihak harus turun tangan bersama untuk Indonesia bebas malaria,” katanya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Ina Agustina Isturini. Dok. Antara

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Ina Agustina Isturini. Dok. Antara

Meski demikian, Ina menegaskan Kemenkes akan berkomitmen untuk terus berupaya mengeliminasi malaria di Indonesia. Strategi eliminasi malaria akan diperluas dengan berbagai langkah, di antaranya melalui pemeriksaan mikroskop, rapid test (RDT), hingga PCR.

Selain itu, pemerintah memperkuat program penemuan kasus aktif, pengawasan migrasi penduduk, serta edukasi kepada masyarakat, termasuk ibu hamil di daerah endemis.

Kemenkes juga meningkatkan peran komunitas melalui pelatihan kader, pembentukan tim malaria kampung, dan penyebaran paket pencegahan di daerah dengan tingkat penularan tinggi.

Baca Juga: Tren Kasus Malaria Indonesia Meningkat 56 Persen pada 2022

“Malaria ini sering tidak bergejala, jadi kita butuh orang-orang yang bisa menjangkau langsung ke masyarakat,” kata Ina.

Dengan dukungan berbagai pihak, Kemenkes optimistis Indonesia bisa mencapai eliminasi malaria nasional secara merata di tahun-tahun mendatang.

Terlebih, saat ini, sebanyak 401 kabupaten/kota atau sekitar 78 persen wilayah Indonesia telah dinyatakan bebas malaria. Lima provinsi bahkan telah mencapai eliminasi tingkat provinsi, yakni Bali, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. (Wafiq Azizah)

Bagikan:
malariaBebas malariapenyakit malariakementerian kesehatanpapua
Loading...
ADS

Update News

Trending