Mengenal Metode Rukyat dan Hilal yang Digunakan di Sidang Isbat

Sidang isbat menggunakan dua metode, yaitu hilal dan rukyat. Apa itu? (foto: Antara)
FAKTA.COM, Jakarta – Sidang isbat penentuan 1 Syawal 1446 Hijriah tidak lama lagi akan digelar. Sidang ini akan menentukan awal bulan Hijriah yang berdampak langsung pada penetapan ibadah umat Islam seperti puasa Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.
Dikutip dari Antara, Jumat (28/3/2025), dalam pelaksanaannya, sidang isbat memadukan dua metode utama, yaitu metode hisab dan rukyat. Metode hisab menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara matematis tanpa observasi langsung, sementara rukyat melibatkan pengamatan langsung hilal di ufuk setelah matahari terbenam.
A. Metode Rukyatul Hilal
Dikutip dari laman Baznas, metode rukyat berdasarkan kepada penglihatan dan pengamatan bulan sabit atau belum terlihat bulan dari bumi.
Pengamatan hilal dilakukan pada hari ke-29 atau malam ke-30 dari bulan yang sedang berjalan. Jika hilal sudah terlihat, malam itu sudah dimulai bulan baru.
Kalau tidak terlihat, malam itu adalah tanggal 30 yang sedang berjalan. Malam berikutnya dimulai tanggal satu bagi bulan baru atas dasar istikmal (digenapkan).
Untuk melihat hilal, biasanya posisi bulan harus berada 2 derajat di atas matahari dan jarak elongasi dari sang surya ke arah kiri atau kanan. Makin lebar jaraknya, hilal makin mudah terlihat.
B. Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Metode hisab hakiki wujudul hilal menggunakan perhitungan astronomis. Cara ini menyakini ada hilal meskipun tidak terlihat oleh mata telanjang selama memenuhi kriteria tertentu, yaitu:
1. Telah terjadi ijtimak (konjungsi)
2. Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam.
3. Piringan atas bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam.
Jika ijtimak terjadi sebelum matahari tenggelam, malam itu dan esok harinya sudah termasuk bulan baru.
Kalau ijtimak terjadi sesudah matahari terbenam, malam itu dan esok harinya masih merupakan hari penggenap bulan.
(Penulis: Kiki Annisa)













