Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Relokasi Industri Asing Melesa...

Relokasi Industri Asing Melesat ke Vietnam, Indonesia Tertinggal Jauh

Presiden Prabowo Subianto bersama Sekjen Partai Komunis Vietnam, To Lam, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (10/3/2025). ANTARA/Livia Kristianti

Presiden Prabowo Subianto bersama Sekjen Partai Komunis Vietnam, To Lam, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (10/3/2025). ANTARA/Livia Kristianti

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Di tengah peluang besar dari pergeseran rantai pasok global dan relokasi industri dari Tiongkok, Indonesia justru terlihat tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.

Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, mengungkap data mencolok soal minimnya relokasi industri asing ke Indonesia.

Berdasarkan data Japanese Government-Related Organization (JETRO), relokasi perusahaan-perusahaan dari China dan Jepang ke negara-negara ASEAN sebagian besar akan berlabuh di Vietnam.


Rinciannya tujuan relokasi yakni 196 pergi ke Vietnam, Thailand kebagian 92, Malaysia 61, sementara Indonesia hanya 59.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran para pengamat bahwa Indonesia belum mampu menjadi tujuan utama investasi industri global, meski secara ukuran ekonomi dan populasi cukup besar.

Beberapa faktor disebut menjadi penyebab utama kegagalan tersebut, mulai dari iklim usaha yang tidak kondusif, biaya ekonomi tinggi, hingga kebijakan yang terlalu berpihak pada proteksionisme.

Yose menilai bahwa kebijakan ekonomi Indonesia yang cenderung tertutup atau inward-looking justru menghambat kemajuan industri dalam negeri.

Baca Juga: Beda China dan Vietnam Respons Perang Dagang Trump Kata Pakar

Ia memberi contoh konkret soal hilirisasi dan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang dinilai tidak memberikan manfaat signifikan.

“TKDN itu dari semua studi yang dilakukan, termasuk studi yang dilakukan oleh CSIS, menunjukkan bahwa dia tidak memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan sektor industri kita,” ujar Yose dalam diskusi daring pada Senin, (28/4/2025).

Menurut Yose, sektor industri yang sifatnya downstream tidak mendapatkan manfaat, karena mereka menjadi kesulitan mendapatkan part dan komponen. Sementara sisi upstream, akan cenderung tak berkembang.

Baca Juga: Prabowo Usul Pelonggaran TKDN, Ancaman bagi Kemandirian Industri?

Kebijakan yang terlalu memaksakan seluruh rantai pasok berada di dalam negeri juga disebut menjadi penghalang.

Salah satu alasannya adalah karena Indonesia menginginkan semua supply chain itu berada di Indonesia. Padahal supply chain dari pembuatan baterai itu dari mining-nya sampai ke tingkatan manufacturing ataupun juga recycling-nya itu cukup panjang sekali.

Dalam pandangan Yose Rizal, pendekatan seperti ini justru membuat investor enggan datang karena dianggap tidak realistis dan menutup peluang kolaborasi global.

Bagikan:
vietnammanufakturrelokasipembangunan pabrikTKDN dihapus
Loading...
ADS

Trending

Update News