Alternatif Cuan, Imbal Hasil Indeks ESG Lebih Tinggi Dibanding Konvensional

Pengunjung memotret layar informasi pergerakan perdagangan karbon internasional (IDX Carbon) pada awal pembukaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (20/1/2025). (ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan/tom)
FAKTA.COM, Jakarta – Perkembangan produk investasi berbasis prinsip keberlanjutan atau ESG (Environmental, Social, and Governance) di pasar modal Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 Bursa Efek Indonesia (BEI), Ignatius Denny Wicaksono, menyampaikan bahwa hal ini tercatat dalam laporan tahunan yang terus menunjukkan hasil yang membaik. Menurutnya, ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dari perusahaan untuk menerapkan prinsip keberlanjutan.
Denny menjelaskan bahwa pada 2020 tercatat hanya sekitar 18 persen perusahaan yang menyampaikan laporan keberlanjutan mereka. Namun, di 2023, angka tersebut melonjak hingga 90 persen.
"Jadi peningkatannya luar biasa," ucap Denny dalam Executive Forum bertajuk “Kesiapan Dana Swasta Indonesia Dalam Pembiayaan Iklim” di Jakarta, Jumat (26/4/2025).
Tidak hanya dari sisi kuantitas, kualitas laporan keberlanjutan juga menunjukkan perbaikan. Menurutnya, risiko investasi di pasar modal Indonesia yang sebelumnya cukup tinggi pada 2020, kini sudah menurun drastis pada 2024.
"Kalau kita lihat tahun 2020, risiko investasi di pasar modal Indonesia itu tinggi, 33,5. Kalau kita lihat di tahun 2024, risiko ini sudah turun" ujarnya.
BEI saat ini menggunakan lima indeks berbasis lingkungan yaitu Sri-KEHATI, IDXESGL, ESGQKEHATI, ESGSKEHATI, dan IDXLQ45LCL. Ia menegaskan bahwa kelima indeks tersebut mampu memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan dengan indeks konvensional, seperti LQ45 dan IDX30.

Executive Forum bertema “Kesiapan Dana Swasta Indonesia dalam Pembiayaan Iklim” di Jakarta, Jumat (26/4/2025). (Fakta.com/Kania Hani Musyaroh)
"Hal yang menarik, kelima indeks ini memberikan return lebih tinggi dibandingkan indeks konvensional. Ini membuktikan bahwa kalau kita mengkonsider aspek ESG dalam penggunaan investasi kita, ternyata enggak cuma menjalankan lingkungan tetapi juga lebih cuan," ucapnya.
Seiring dengan itu, jumlah produk investasi berbasis ESG juga meningkat pesat. Denny mengatakan bahwa pertumbuhan dana kelolaan atau asset under management (AUM) produk berbasis ESG juga melonjak tajam. Pada 2015 hanya terdapat satu produk dengan AUM sebesar Rp42 miliar. Namun hingga 2024, terdapat 25 produk investasi dengan AUM mencapai Rp7,5 triliun.
Selain itu, jumlah manajer investasi yang mengelola produk berbasis ESG pun melonjak. "Kalau dulu cuma ada satu [manajer investasi] di 2009, sekarang 25 [manajer investasi hingga 2024], " ucap Denny.
Indonesia juga tengah mendorong penerapan taksonomi hijau untuk memudahkan investor dalam memilih perusahaan berkelanjutan tanpa harus memahami rincian teknis yang rumit.
Denny juga menekankan pentingnya perjalanan menuju net zero emissions di pasar modal Indonesia. Di sisi lain, bursa karbon Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Dengan berbagai inisiatif ini, pasar modal Indonesia memperkuat posisinya dalam mendukung investasi berkelanjutan sekaligus membuka peluang besar untuk pertumbuhan ekonomi hijau di masa depan.













