AS Beri Lampu Hijau Proposal Dagang Indonesia, Siap Bahas Teknis

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berjabat tangan dengan Wakil Dagang AS (USTR), Jamieson Lee Greer, di Amerika Serikat. ANTARA/HO-Kemenko Perekonomian
FAKTA.COM, Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) melanjutkan pembahasan kerja sama perdagangan dalam forum bilateral yang berlangsung di Washington DC. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengakui bahwa proposal dagang yang diajukan mendapat apresiasi dari berbagai pihak AS.
“Secara keseluruhan, pemerintah di Amerika Serikat, asosiasi, maupun dunia usaha mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh Indonesia,” ujar Airlangga dalam konferensi pers “Perkembangan Lanjutan Negosiasi Perdagangan Indonesia-Amerika” di Jakarta pada Jumat (15/4/2025).
Poin poin yang tertulis dalam proposal tersebut, kata Airlangga, mencakup lima poin manfaat utama. Di antaranya adalah soal ketahanan energi, peningkatan akses pasar ekspor, dan kemudahan berusaha.
Selain itu, Indonesia juga menaruh harapan besar atas kerja sama rantai pasok industri strategis serta akses terhadap teknologi di sektor-sektor penting seperti kesehatan dan energi terbarukan.
Hemat Airlangga, tawaran yang diajukan guna mewujudkan kerjasama perdagangan yang adil (fair and square), sepenuhnya mengacu pada kepentingan nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan, Sri Mulyani bahwa formulasi ekonomi yang dibawa mempunyai nilai jual tinggi di mata AS.
“Proposal Indonesia yang disampaikan oleh Pak Menko, termasuk proposal yang paling lengkap dan detail. Itu menggambarkan suatu kerja sama yang saling menguntungkan,” jelas Menkeu.
Menurutnya, AS bahkan telah memberi lampu hijau pada pembentukan lima sektor khusus dalam working group untuk mempercepat pembahasan teknis dalam waktu dekat.
Selain itu, Indonesia juga telah menandatangani non-disclousure agrrement dengan USTR, yang memberikan pertanda akan adanya pembahasan lanjutan.
“Indonesia termasuk di antara negara-negara yang sudah memulai proses awal negosiasi. Ini adalah modal penting untuk terus maju ke pembahasan teknis,” tambah Ani.
Pembahasan ini berlangsung di sela-sela pertemuan G20 dan Spring Meeting IMF-World Bank. Menurut dua tokoh kunci ini, momentum tersebut penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika perdagangan global serta sokongan bagi reformasi struktural di dalam negeri.
Untuk diketahui, bahwa Pemerintah Indonesia telah mengirimkan delegasi ke Washington D.C., AS, untuk bernegosiasi tarif resiprokal yang dimulai pada (15/4/2025).
Adapun lawatan dalam durasi yang hampir dua pekan ini, Indonesia mengajukan beberapa usulan penting, di antaranya pembaruan perjanjian kerja sama dagang Trade & Investment Framework Agreement (TIFA), pelonggaran regulasi Non-Tariff Measures (NTMs) termasuk relaksasi ketentuan TKDN, serta proposal peningkatan impor migas dari AS.













