Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Analisis IMF Ungkap Perekonomi...

Analisis IMF Ungkap Perekonomian AS Semakin Gelap

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump meneken "Executive Order" di Gedung Putih, Washington, DC. (Dok. White House)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump meneken "Executive Order" di Gedung Putih, Washington, DC. (Dok. White House)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – International Monetary Fund (IMF) meramal perekonomian Amerika Serikat (AS) akan melambat, salah satunya karena meningkatkanya ketidakpastian kebijakan, termasuk soal tarif resiprokal baru yang diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump.

Dalam laporan bertajuk World Economic Outlook yang dirilis, Selasa (22/4/2025), IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS tahun ini di angka 1,8 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun lalu yang dicatatkan sebesar 2,8 persen.

Tak hanya itu, angka ini lebih rendah 0,9 persen dibandingkan dengan proyeksi IMF di awal tahun.

“Ini adalah hasil dari ketidakpastian kebijakan yang lebih besar, ketegangan perdagangan, dan prospek permintaan yang lemah,” mengutip World Economic Outlook IMF, Selasa (22/4/2025).


Sebelumnya, INDEF juga menyebutkan bahwa kebijakan tarif resiprokal AS dapat menjadi bumerang untuk perekonomian AS sendiri. Hal tersebut disampaikan oleh Ekonom INDEF, Eko Listiyanto dalam Diskusi Publik INDEF, Kamis (17/4/2025).

Sebab, Eko menilai bahwa dampak kebijakan Trump ini bisa memperburuk kondisi inflasi di AS. Karena, menurut Eko peningkatan tarif resiprokal AS akan mempengaruhi rantai pasok barang sehingga ada potensi peningkatan harga.

Di sisi lain, kebijakan Trump justru menciptakan persepsi buruk investor. Walhasil, dolar AS pun juga tertekan. Kombinasi tekanan pada dolar dan ancaman inflasi berimplikasi pada pengetatan kebijakan moneter.

“Kenapa? The Fed melihat Dolar AS tertekan, di sisi lain inflasi kalau perang dagang itu sama-sama rugi. Supply chain terhambat, apalagi kalau tarifnya besar. Inflasi sedang mengintai mereka,” jelas Eko.


Padahal, menurut Eko, untuk menggerakan perekonomian, kebijakan moneter perlu dilonggarkan. Namun, dengan kondisi seperti ini, The Fed, sepertinya akan mempertahankan Fed Fund Rate (FFR) di level yang tinggi, yakni 4,5 persen.

Bagikan:
kebijakan tarif Trumpinternational monetary fundperang dagangindefamerika serikat
ADS

Trending

Update News