Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Perang Dagang Memanas, Rupiah ...

Perang Dagang Memanas, Rupiah Makin Menjauh dari Asumsi Makro 2025

Petugas menghitung uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di gerai penukaran mata uang asing. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa/aa)

Petugas menghitung uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di gerai penukaran mata uang asing. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa/aa)

Google News Image


FAKTA.COM, Jakarta – Rupiah masih terus melanjutkan tren pelemahannya. Per Selasa (22/4/2025), Rupiah ditutup melemah pada level Rp16.849. Ekonom Senior Bank DBS, Radhika Rao mengungkap bahwa pemerintah perlu melakukan penyesuaian terhadap asumsi makro APBN TA 2025, termasuk kurs Rupiah.


Seperti diketahui, dalam asumsi makro APBN TA 2025, kurs Rupiah dipatok sebesar Rp16.000 per US$1. Akan tetapi, di tengah gejolak perekonomian, termasuk tekanan global, nilai Rupiah terus mengalami pelemahan.

Bahkan, di pasar NDF (Non Deliverable Forward), kurs Rupiah sempat menembus level Rp17.00 di awal April ini.


Karena itu, Radhika mengatakan bahwa pemerintah perlu memikirkan untuk meninjau kembali asumsi makro yang sudah ditetapkan.

“Beberapa asumsi makro dalam APBN 2025 juga mungkin perlu ditinjau kembali. Sebagai contoh, mengacu pada nilai tukar USD/IDR di level 16.100 per USD, sementara saat ini Rupiah berada di level yang lebih lemah,” jelas Radhika dalam keterangan tertulis, Senin (21/4/2025).

Dalam kesempatan terpisah, Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan di luar berrbagai faktor lain, kebijakan tarif dagang Trump juga mempengaruhi perekonomian Indonesia. Walhasil, dalam beberapa waktu ke depan, kurs Rupiah masih akan bergejolak, mengikuti perkembangan dinamika perang dagang.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Trump 2.0 Bikin Panik: Emas Kembali Jadi Safe Haven

Menurutnya, imbas dari gonjang-ganjing perang dagang, neraca perdagangan Indonesia berpotensi menyusut.

Seperti diketahui, per Maret ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis catatan perdagangan Indonesia. Pada periode itu, Indonesia berhasil surplus dagang sebesar US$4,33 miliar. Akan tetapi, Ibrahim menilai surplus dagang Indonesia akan menyusut perlahan.

“Alasannya, terjadi eskalasi perang dagang akibat penerapan tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada para mitra dagangnya termasuk Indonesia,” jelas Ibrahim dalam keterangan tertulis, Selasa (22/4/2025).

Baca Juga: Dagang RI Tembus Surplus US$4,33 Miliar, AS Tetap jadi Sumber Cuan Nomor Satu

Dengan pengenaan tarif resiprokal baru ini, diperkirakan akan terjadi pelemahan permintaan dari sejumlah mitra dagang Indonesia, khususnya di sektor manufaktur dan industri berbasis SDA (Sumber Daya Alam).

“Selain itu, fluktuasi harga energi dan mineral global dapat memengaruhi nilai ekspor Indonesia,” imbuh Ibrahim.

Sejumlah faktor itulah yang menurut Ibrahim menjadi faktor yang paling signifikan mempengaruhi kurs Rupiah.

Bagikan:
kebijakan tarif Trumpkurs Rupiah terhadap Dolarasumsi makro perekonomianRupiah
Loading...
ADS

Trending

Update News

Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In