Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Menanti Arah Kebijakan Moneter...

Menanti Arah Kebijakan Moneter BI di Tengah Gejolak Perang Dagang

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan arah kebijakan BI kedepan saat pertemuan tahunan Bank Indonesia 2024 di Jakarta, Jumat (29/11/2024). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/YU/am)

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan arah kebijakan BI kedepan saat pertemuan tahunan Bank Indonesia 2024 di Jakarta, Jumat (29/11/2024). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/YU/am)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Bank Indonesia mengumumkan Hasil Rapat Dewan Gubernur Periode April, Rabu (23/4/2025). Publik menanti arah kebijakan moneter yang akan diambil BI, termasuk soal suku bunga acuan atau BI Rate. Terlebih, di tengah gejolak perang dagang yang juga memengaruhi stabilitas moneter. Lantas, bagaimana BI harus bersikap?

Dosen Ekonomi Moneter Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Aswin Rivai memperkirakan bahwa BI tetap akan mempertahankan BI Rate di angka 5,75 persen.

Sebab, di tengah potensi penurunan ekspor imbs dari kebijakan tarif resirpokal Amerika Serikat, Indonesia perlu mencegah terjadinya capital flight. Penurunan suku bunga acuan berimplikasi pada menurunnya yield SBN sehingga investor menjadi kurang tertarik.

“BI concern sekali dengan capital flight ini,” kata Aswin kepada Fakta.com, Selasa (22/4/2025).

Dalam hal ini, capital flight bisa memberikan tekanan pada Rupiah. Atas alasan ini, Aswin memandang BI tetap akan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar.

“Mungkin enam  bulan ke depan saat dampak tarif Trump sudah terkendali, peluang penurunan suku bunga dapat dilakukan,” jelas Aswin.


Pertimbangan Prospek Inflasi dan Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Di sisi lain, Senior Economist Bank DBS, Radhika Rao mengungkap bahwa BI memiliki ruang untuk memangkas BI Rate sebesar 50 bps (basis point) bulan ini. Ruang pelonggaran kebijakan moneter itu terlihat dari sejumlah indikator, misalnya tingkat inflasi yang cenderung berada di tingkat yang kondusif.

Seperti diketahui, meskipun ada peningkatan, tingkat inflasi Tanah Air masih tergolong rendah. Per Maret ini, angkanya dicatatkan sebesar 1,03 persen. Sementara itu, secara rata-rata dalam 12 bulan terakhir, rata-rata inflasi hanya sebesar 1,75 persen saja.

Catatan ini pun masih berada di bawah target yang ditetapkan BI, yakni 1,5-3,5 persen. Bahkan, Radhika juga bilang bahwa pihaknya memperkirakan sepanjang tahun ini, tingkat inflasi Indonesia hanya akan sebesar 1,7 persen, lebih rendah dari proyeksi awal mereka, yakni, 2,0 persen.


Di samping itu, pihaknya juga memperkirakan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah gonjang-ganjing tarif dagang Trump. Pihaknya memperkirakan dampak dari tarif dagang Trump, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dapat terkontraksi hingga 0,5 persen.

Walhasil, Radhika memperkirakan bahwa pemangku kebijakan akan mengambil keputusan yang dapat menggenjot permintaan, termasuk Bank Indonesia.

“DBS Group Research memperkirakan para pembuat kebijakan masih akan memanfaatkan peluang yang ada, ketika isu tarif mengendap, untuk menurunkan suku bunga sebesar 50 bps di tahun ini, karena suku bunga riil menandakan adanya penyangga yang signifikan,” jelas Radhika dalam keterangan tertulis, Senin (21/4/2025).

Bagikan:
bi ratebank indonesiakurs JISDOR Bank Indonesiasuku bunga acuan
Loading...
ADS

Update News

Trending