Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Rupiah Menguat Seiring Perseps...

Rupiah Menguat Seiring Persepsi Negatif Pasar atas Pernyataan Trump

Petugas menyusun uang Dolar AS dan Rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat (1/3/2024). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa)

Petugas menyusun uang Dolar AS dan Rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat (1/3/2024). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra memperkirakan nilai tukar (kurs) Rupiah menguat seiring persepsi negatif pasar terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang meminta pemangkasan suku bunga acuan The Fed.

“Tekanan terhadap Dolar AS terbaru datanya dari persepsi negatif pasar terhadap pernyataan Trump yang meminta Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunga acuannya,” ujarnya di Jakarta, Senin (21/4/2025).

Pernyataan tersebut dianggap mengintervensi tugas The Fed yang bisa berdampak buruk ke perekonomian AS.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Trump 2.0 Bikin Panik: Emas Kembali Jadi Safe Haven

Dalam sebuah unggahan di media sosial miliknya, Truth Social, pada 17 April 2025, Trump menyatakan antara lain bahwa "Powell’s termination cannot come fast enough!”.

Dengan kata lain, Trump sangat menanti-nanti momen ketika Powell diberhentikan dari jabatannya sebagai pucuk pimpinan bank sentral AS.

Bahkan, pada hari yang sama, berbagai media internasional juga melaporkan Trump telah berkata kepada para wartawan bahwa, "Saya [Trump] tidak senang dengan dia [Powell]. Saya membuat dia mengetahuinya.”

Baca Juga: The Fed: Tarif Dagang Trump Berpotensi Picu Inflasi Tinggi di AS

Salah satu pemicu yang membuat Trump tak suka dengan Powell adalah mengenai paparan penilaian suram oleh Gubernur The Fed terhadap prospek ekonomi terhadap perombakan tarif besar-besaran Trump sejak 3 April 2025.

Selain itu, beberapa kali Trump telah mendorong Fed untuk segera menurunkan suku bunga. Tetapi Powell mengatakan pihaknya masih membutuhkan kejelasan yang lebih besar mengenai dampak kebijakan tarif Trump sebelum melakukan tindakan apapun.

Penguatan Rupiah juga dipengaruhi pelemahan Dolar AS yang tertekan dampak negatif dari kenaikan tarif terhadap perekonomian AS karena kenaikan harga-harga barang konsumsi.

Baca Juga: Jangan Kambing Hitamkan Trump Atas Pelemahan Rupiah

“Potensi penguatan ke arah Rp16.700, dengan resisten di kisaran Rp16.830,” ucap dia.

Aris melaporkan bahwa nilai tukar regional pagi ini rata-rata menguat terhadap Dolar AS, sehingga Rupiah pun bisa turut menguat.

Indeks Dolar AS pagi ini bergerak lebih rendah dari pekan lalu di kisaran 98 dari sebelumnya di atas 99.

Nilai tukar Rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin pagi di Jakarta menguat sebesar 46 poin atau 0,27 persen menjadi Rp16.831 per Dolar AS dari sebelumnya Rp16.877 per Dolar AS. (ANT)

Bagikan:
penguatan nilai tukar rupiahkurs Rupiah terhadap Dolardonald trumpthe fedamerika serikat
Loading...
ADS

Trending

Update News