Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Perang Dagang, Dolar AS Tak Me...

Perang Dagang, Dolar AS Tak Menarik Lagi bagi Investor

Petugas menunjukkan uang Dolar AS di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (10/10/2023). (ANTARA FOTO/Bagus Ahmad Rizaldi/sgd/YU)

Petugas menunjukkan uang Dolar AS di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (10/10/2023). (ANTARA FOTO/Bagus Ahmad Rizaldi/sgd/YU)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Hal menarik terjadi pada pergerakan Dolar Amerika Serikat (AS) usai Presiden AS, Donald Trump mengumumkan peningkatan tarif resiprokal kepada sejumlah negara, Rabu (2/4/2025). Di tengah dinamika perang dagang, Dolar AS yang dianggap sebagai safe haven ternyata semakin tertekan. 

Ekonom INDEF, Eko Listiyanto menyebutkan investor ternyata memiliki persepsi negatif terhadap prospek perekonomian AS usai mengumumkan peningkatan tarif dagang.

Walhasil, ketika ketidakpastian meningkat dan sejumlah investor lari dari pasar saham, aset mereka tidak dialihkan ke Dolar AS. Hal tersebut tercermin dari melemahnya indeks Dolar (DXY), terutama usai Trump mengumumkan tarif dagang baru.


“Bahkan [indeks Dolar] sudah di bawah 100 pada posisi hari ini,” ujar Eko dalam Diskusi Publik INDEF, Kamis (17/4/2025) secara daring.

Menurut penuturan Eko, sejumlah investor justru lari ke mata uang lain, seperti Euro dan Yen Jepang. Walhasil, mata uang tersebut mengalami penguatan, sedangkan Dolar AS semakin terpuruk.


“Dari situ, digambarkan bahwa tidak selalu AS menjadi centre dari aset-aset safe haven,” jelas Eko.

Di sisi lain, obligasi AS juga tidak begitu diminati. Sebab, risiko akan kondisi perekonomian AS meningkat. Karena itu, investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

Bagikan:
dolar askebijakan tarif Trumpindefdonald trump
ADS

Trending

Update News

Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In