Perang Dagang, Dolar AS Tak Menarik Lagi bagi Investor

Petugas menunjukkan uang Dolar AS di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (10/10/2023). (ANTARA FOTO/Bagus Ahmad Rizaldi/sgd/YU)
FAKTA.COM, Jakarta – Hal menarik terjadi pada pergerakan Dolar Amerika Serikat (AS) usai Presiden AS, Donald Trump mengumumkan peningkatan tarif resiprokal kepada sejumlah negara, Rabu (2/4/2025). Di tengah dinamika perang dagang, Dolar AS yang dianggap sebagai safe haven ternyata semakin tertekan.
Ekonom INDEF, Eko Listiyanto menyebutkan investor ternyata memiliki persepsi negatif terhadap prospek perekonomian AS usai mengumumkan peningkatan tarif dagang.
Walhasil, ketika ketidakpastian meningkat dan sejumlah investor lari dari pasar saham, aset mereka tidak dialihkan ke Dolar AS. Hal tersebut tercermin dari melemahnya indeks Dolar (DXY), terutama usai Trump mengumumkan tarif dagang baru.
“Bahkan [indeks Dolar] sudah di bawah 100 pada posisi hari ini,” ujar Eko dalam Diskusi Publik INDEF, Kamis (17/4/2025) secara daring.
Menurut penuturan Eko, sejumlah investor justru lari ke mata uang lain, seperti Euro dan Yen Jepang. Walhasil, mata uang tersebut mengalami penguatan, sedangkan Dolar AS semakin terpuruk.
“Dari situ, digambarkan bahwa tidak selalu AS menjadi centre dari aset-aset safe haven,” jelas Eko.
Di sisi lain, obligasi AS juga tidak begitu diminati. Sebab, risiko akan kondisi perekonomian AS meningkat. Karena itu, investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi.













