Rencana Trump Bangun Industri Domestik Bisa Gagal karena Ulahnya Sendiri

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump meneken "Executive Order" di Gedung Putih, Washington, DC. (Dok. White House)
FAKTA.COM, Jakarta – Dalam berbagai pidatonya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sering berujar untuk membangun kekuatan ekonomi domestik. Bahkan, Make America Great Again (MAGA) menjadi slogan yang populer.
Walhasil, sejumlah kebijakan yang ditempuh Trump cenderung bersifat protektif. Salah satunya tercermin dari peningkatan tarif resiprokal AS yang diumumkan, Rabu (2/4/2025) lalu.
Harapannya, dengan tarif ini, maka ekspor AS bisa meningkat sehingga membangun kekuatan industri dalam negeri baru. Implikasinya, banyak lapangan kerja baru diciptakan.
Namun, Ekonom INDEF, Eko Listiyanto mengungkap bahwa investor justru melihat genderang perang dagang yang ditabuh Trump, menimbulkan ketidakpastian. Walhasil, investor melihat ada risiko memburuknya perekonomian AS.
Hal itu tercermin dari nilai Dolar yang secara umum, trennya ternyata tidak menunjukkan penguatan. Buktinya, indeks Dolar (DXY) justru terus melemah, terutama sejak Trump mengumumkan pengenaan tarif resiprokal baru pada sejumlah negara.
“Bahkan [indeks Dolar] sudah di bawah 100 pada posisi hari ini. Dari situ, digambarkan bahwa tidak selalu AS menjadi centre dari aset-aset safe haven,” ujar Eko dalam Diskusi Publik INDEF, Kamis (17/4/2025), secara daring.
Ancaman Inflasi dan Kebijakan Moneter Ketat
Menurut Eko, pelemahan Dolar ini akan mempengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Dalam hal ini, kemungkinan The Fed akan mengambil kebijakan moneter ketat.
“Kenapa? The Fed melihat Dolar AS tertekan, di sisi lain inflasi kalau perang dagang itu sama-sama rugi. Supply chain terhambat, apalagi kalau tarifnya besar. Inflasi sedang mengintai mereka,” jelas Eko
Padahal, sebelum Trump mengumumkan tarif dagang baru, inflasi AS cenderung menurun. Bahkan, per Maret ini, dengan angka 2,4 persen, inflasi AS menyentuh level terendah sejak September tahun lalu.
Namun, dengan gonjang-ganjing perang dagang ini, Eko menilai agaknya inflasi AS akan meningkat. Walhasil, The Fed kemungkinan besar akan meningkatkan Fed Fund Rate (FFR) atau setidaknya dipertahankan di level yang sama, yakni sekitar 4,5 persen.
“Implikasinya adalah, kalau inflasi dan suku bunga naik, harapan Trump untuk kembali membangun industri di AS supaya banyak lapangan kerja tersedia itu tidak akan tercapai,” jelas Eko.
Sebab, untuk menggerakan ekonomi, arah kebijakan moneter perlu didorong lebih longgar dengan suku bunga rendah.













