Siasat Pemerintah Mengambil Hati Trump demi Diskon Tarif Dagang

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebut delegasi RI siap negosiasi dengan para pejabat AS pada pekan ini dalam konpers di Jakarta, Senin (14/2/2025). (Dok. Kemenko Perekonomian)
FAKTA.COM, Jakarta – Di tengah genderang perang dagang yang ditabuh Amerika Serikat (AS), membaca motivasi Presiden AS, Donald Trump adalah hal yang penting. Terlebih, dalam merumuskan langkah negosiasi.
Ekonom Senior Samuel Sekuritas Indonesia (SSI), Fithra Faisal Hastiadi mengungkap motif Trump dapat dilihat dari formula perhitungan tarif resiprokal AS, meskipun sejumlah ekonom menganggap perhitungan yang digunakan AS berada di luar pemahaman perdagangan internasional.
Secara sederhana, perhitungan tarif resiprokal AS didapatkan dengan membagi total defisit dagang AS ke suatu negara dengan total impornya. Dengan begitu, semakin tinggi defisit dagang AS terhadap suatu negara, makin besar pula tarif yang dikenakan.
“Ini apa sih yang mau dilihat Trump, ya defisitnya,” ujar Fithra dalam sebuah Webinar PEBS Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu (16/4/2025).
Maka, menurut Faisal langkah paling tepat untuk melakukan negosiasi adalah dengan mengikuti perhitungan AS itu. Artinya, Indonesia perlu membeli banyak produk dari Negeri Paman Sam.
“Kita berusaha untuk membeli lebih banyak produk-produk Amerika Serikat untuk mengurangi defisitnya dan ketika kita mengurangi defisit—pasti kan kalau defisitnya jadi nol, dibagi berapa pun kan jadi nol. Itu adalah perhitungan tarif bodoh yang harus kita ikuti,” imbuh Fithra.
Indonesia Siap Tingkatkan Impor Amerika Serikat
Dalam konferensi pers di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (14/4/2025), pemerintah sepakat untuk mengajukan negosiasi kepada AS. Salah satunya melalui peningkatan impor asal AS, terutama untuk produk migas.
“Indonesia akan membeli barang dari Amerika sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.
Merujuk data dari kantor perwakilan perdagangan AS, Airlangga menyampaikan bahwa defisit dagang AS terhadap Indonesia sebesar US$17,9 miliar sepanjang tahun lalu atau meningkat 5,4 persen secara tahunan (yoy). Angka ini lebih besar dari perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatatnya di kisaran US$14 miliar.
“Indonesia akan membeli barang dari Amerika sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” tambah Airlangga.
Terkait wacana ini pun, Kementerian ESDM tengah mengusulkan agar pemerintah menambah kuota impor migas asal Amerika sebesar US$10 miliar.
“Kami dari ESDM mengusulkan agar kita mengimpor sebagian minyak dari Amerika dengan menambah kuota impor LPG yang angkanya kurang lebih di atas US$10 miliar,” ucap Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia ketika ditemui awak media setelah pembukaan "Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2025" di Jakarta, Selasa (15/4/2025).
Asal tahu saja, tren impor migas dari AS dalam beberapa tahun terakhir memang cenderung meningkat. Sepanjang tahun lalu, sekitar US$2,5 miliar. Jika pemerintah ingin meningkatkan impor migas hingga US$10 miliar maka kuota impor migas ke AS harus ditingkatkan hingga empat kali lipat.
Meski begitu, strategi peningkatan impor asal AS ini disebut Fithra tidak akan mempengaruhi neraca dagang Indonesia secara keseluruhan. Sebab, objektifnya bukan menambah impor baru, melainkan memindahkan sebagian basis impor dari negara lain ke AS.
Informasi saja, Indonesia dikenakan tarif resiprokal oleh AS sebesar 32 persen. Perhitungan ini berdasarkan total defisit dagang AS ke Indonesia yang dicatatkan pihak AS sebesar US$18 miliar.













