Menuju 2060: RI Pacu Transformasi Ekonomi lewat Energi Hidrogen

Dirjen Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2025 di Jakarta, Rabu (16/4/2025). (Fakta.com/Trian Wibowo)
FAKTA.COM, Jakarta – Pemerintah Indonesia saat ini tengah memperkuat arah kebijakan transisi energi yang tak hanya berkiblat pada keberlanjutan lingkungan, namun juga potensi ekonomi jangka panjang.
Dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2025, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jisman P. Hutajulu menekankan bahwa hidrogen akan menjadi penggerak ketenagalistrikan sekaligus motor pertumbuhan ekonomi nasional.
“Hidrogen tidak hanya menjawab tantangan emisi, tetapi juga membuka peluang investasi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja baru di sektor energi bersih,” ujar Jisman dalam GHES 2025 di Jakarta, Rabu (16/4/2025).
Proyeksi Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), target Indonesia ialah memiliki sebesar 443 Gigawatt kapasitas pembangkit listrik yang terpasang pada 2060.
Dari target tersebut, 24 persen akan berasal dari sumber energi baru seperti hidrogen hijau dan amonia hijau. Sisanya, 21 persen bersumber dari VRE/Variable Renewable Energy (sumber energi terbarukan yang keluarannya tidak stabil), 29 persen dari energi Terbarukan Stabil, dan 26 persen dari fosil.
Konsumsi listrik nasional diperkirakan mencapai 1.800 Terra Watt hour (TWh) pada 2060 (1 TWh setara 1.000 GWh). Jisman memandang hal ini selaras dengan meningkatnya kebutuhan dari kawasan industri, zona ekonomi khusus, dan pengembangan hilirisasi.
Sebagai dukungan ini, pemanfaatan hidrogen akan dilakukan secara bertahap. Targetnya, pemanfaatan kapasitas 100 GW berbasis hidrogen akan tercapai pada 2060, dengan pembangunan besar dimulai antara 2055 hingga 2058.
Pemerintah juga telah memetakan sumber-sumber energi terbarukan untuk mendukung produksi hidrogen hijau, seperti PLTA Mamberamo di Papua dan PLTS skala besar di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kedua proyek ini tak hanya akan menyuplai kebutuhan domestik, tapi juga berpotensi menjadi sumber ekspor energi bersih yang bernilai tinggi.
“Ini adalah peluang ekonomi strategis. Pengembangan hidrogen hijau berbasis energi terbarukan, Indonesia bisa memasuki pasar ekspor energi baru,” tambah Jisman.
Selain mendorong investasi dan ekspor, pemerintah juga akan memperkuat infrastruktur seperti super grid antarpulau, sistem penyimpanan energi, dan konversi pembangkit lama.
Melalui pendekatan berbasis permintaan (demand creation) dan skema harga yang kompetitif, Jisman optimistis hidrogen akan tumbuh menjadi komoditas energi strategis yang menopang transformasi ekonomi menuju era rendah karbon.













